2

Cerita Mudik lebaran 2017 : Ke Surabaya mampir Madura

Sudah lama kami tidak ke Kota Surabaya, lewat sih pas mudik tapi lewat tol nya aja. Kami kepo akan berita tentang Surabaya yang kaya akan taman kotanya. Iya, kami pecinta ruang terbuka hijau. Selain itu kami juga mau makan Bebek Sinjai *gak jauh-jauh dari makanan #salamGembul 🙂 .

Awalnya mau makan Bebek Sinjai di Surabaya namun kekepoan membawa kami mendatangi warung prionernya. Mencari jawaban mengapa oh mengapa si Bebek Sinjai ini demikian Famous.

Mengunjungi bebek sinjai, kami dapat bonus melewati Jembatan Suramadu nan panjang. Sebuah pengetahuan baru buat lintang dan Cakrawala. Letak bebek sinjai pun tidak terlalu jauh dari keluar jembatan, sekitar 20 menit. Satu yang menarik juga, sebelum warung bebek sinjai ini, banyak loh warung bebek lain yang lebih bagus tempatnya. Tapi kenapa si bebek sinjai yang lebih terkenal #misteri.

Tiba di Bebek Sinjai pada jam makan siang, sudah banyak mobil berderet di depan warungnya. Di dalam warung, wow antrian panjang mengular. Ada antrian khusus untuk makan, minum dan bungkus. Bahkan untuk dapat tempat dudukpun, kami antri di sebelah orang lagi makan *penuh perjuangan. Rasa? Buat aku enak. Lintang yang biasanya gak doyan bebek aja, habis. Apa ya? Rasanya itu sederhana tapi enak. Sambelnya juga seger. Pengen balik lagi. Tapi makan yang di cabang Surabaya aja kali ya, hahahahaa *trauma antri luama. Tapi kayaknya sih antri lama itu juga efek lebaran, mungkin karena banyak pemudik kepo kayak kami :).

Selesai mengisi perut kami mampir di toko batik yang terdapat di sepanjang jalan menuju jembatan suramadu. Batik tulis madura warna merah menjadi pilihan kami. Murah loh @50rb/helai. Satu helai kain bisa buat 1 kemeja dewasa. Ada juga yang harganya lebih mahal, yang motifnya lebih rumit. Ini nih fotonya setelah dijahit *efek terlambat posting, beli kain pun sampai udah kejahit, hihihi.

Sampai Surabaya menjelang sore, tujuan selanjutnya Taman Mundu, taman terdekat yang bisa dicapai. Duo bocah main mobil-mobilan, menikmati air mancur dan bermain jungkat-jungkit. Tamannya tak terlalu besar namun cukup untuk duduk santai sembari bengong :).

Sebagai anggota Klub Pecinta Senja, menikmati senja buat kami selalu menyenangkan. Maka pergilah kami di penghujung hari itu ke Surabaya North Quay. Tempat ini sebenarnya terminal pemberangkatan penumpang kapal, namun di lantai atas disediakan food court, live music dan tempat untuk memandang laut lepas.

Sehabis magrib, kami lanjut memutari tengah kota, menuju tempat makan malam. Terasa sekali kotanya bersih, rapi dan hijau, padahal kami berkeliling di malam hari. Kantor walikota juga terlihat rimbun akan pepohonan. Ada pula sungai yang terlihat bersih dan bergelantungan lampion di atasnya, indah. Sayang kami belum explore banyak karena udah pada kecapekan.

Tempat makan yang kami tuju tutup karena libur lebaran. Sempat kebingungan mencari pengganti, kami akhirnya berlabuh ke Lontong Balap Pak Gendut. Lontong Balap adalah salah satu makanan khas Surabaya. Rasanya enak loh.

Surabaya, nantikan kedatangan kami kembali ya. Wahai para kuliner maknyus, walau belum bersua kau sudah tersimpan dalam google map kami. Terima kasih Surabaya. Kau layak dicinta.

Advertisements
2

Cerita Mudik Lebaran 2017 : Ke Gunung Bromo

Aku lahir di Probolinggo, tapi mungkin karena dekat jadinya ke Bromo baru 2 kali. Pertama waktu kelas 1 SMA sama teman-teman sekelas, kedua waktu hamil lintang.

Ke Bromo kali ini atas permintaan Lintang, dia pernah lihat tayangan tentang Gunung Bromo dan sesumbarlah si emak ini kalo itu dekat rumah eyang. Jadilah Bromo menjadi satu destinasi liburan lebaran kami.

Kami ke Bromo dari siang sampai sore. Untuk mencapai kawah kami sewa mobil sampai dekat kawah dan lanjut jalan kaki. Ada pilihan naik kuda sih tapi waktu itu kami sok kuat, hihihi. Lintang sama sekali gak minta gendong. Dia berlarian bersama eyang akung dan berada paling depan. Padahal jaraknya jauh dan dapat bonus jalan menanjak pula.

Kalau Cakrawala bareng bunda, yang mana si bunda ngos-ngosan saat jalan menanjak. Untunglah Cakrawala kuat jalan, gak mau digendong loh dia. Aku malah yang gak tega liat dia jalan. Pas di tangga, aku tawarin dia gendong dan mau. Aaah…kaki rasanya gemetar pas naik tangga, akhirnya diambil alih Pak Candra gendongnya. Itu aja setiap berapa tangga, aku berhenti untuk ambil napas.

Begitu sampai kawah, disapa dengan suara gemuruhnya. Lintang minta turun, padahal emaknya pengen selojor dulu. Tapi emang ngeri sih ngeliat kawahnya, ngeri jatuh, hihihi. Ada pagarnya tapi pagarnya itu gak rapat.

Di pinggir kawah bentar doang, lanjut turun tangga lagi. Untungnya kalau turun gak secapek naik walau ada Cakrawala nangkring di belakang.

Begitu selesai menuruni tangga, langsing ke parkiran kuda. Gak kuat aku kalo jalan kaki lagi. Naik kuda berdua dengan Cakrawala bayarnya 50rb. Ternyata naik kuda di jalan berpasir dan menurun cukup bikin deg-degan. Dingin pula waktu itu karena udah menjelang petang. Kayaknya kalo kesana sore kudu bawa jaket deh. Kalau Cakrawala pake jaket tipis sih tapi celananya pendek. Kayaknya dia kedinginan juga, mana diam lagi sepanjang jalan #worry. Begitu kuda sampai di parkiran mobil sewaan, lega.

Lintang dan Cakrawala suka sekali ke Gunung Bromo ini, memberi mereka gambaran akan gunung.

Semoga suatu hari nanti kami berempat bisa mendaki gunung-gunung di Indonesia, amin.

0

Perayaan HUT RI ke-72

Kami sudah mulai woro-woro ke anak-anak mengenai hari peringatan kemerdekan sejak awal agustus. Diawali dari Pak Candra yang membuat sendiri bendera merah putih. Kami beli bahannya Februari kemarin pas ke jogja, di toko Liman. Anak-anak juga ikut pas nyari bambu buat tiang dan memasangnya di depan rumah.

Ketika tahu kalau ada lomba 17an di taman, mereka mau ikutan. Lintang milih ikut lomba makan kerupuk dan Cakrawala mau lomba memindahkan bendera. Ditanyain mau lomba yang lain, mereka berdua kompak jawab “aku ikut satu aja. Ok nak!.

Kamis pagi, begitu warga sudah berkumpul, diadakan upacara bendera. Sudah lama tidak ikut upacara. Ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya bawaannya pengen mewek. Gimana rasanya jadi atlet yang menang olimpiade ya, mungkin dada berasa gempa :).

Selama acara makanan tersedia melimpah, baik yang disediakan oleh panitia maupun yang dibawa olh masing-masing warga. Sate, rujak, nasi liwet, es kelapa masuk smua *wareg.

Berkumpul

Anak – anak pada semangat ikut lomba. Lintang bahkan nambah ikutan lomba masukin paku ke botol. Mereka juga betah di taman sampai acara selesai. Ini adalah kali pertama Cakrawala ikutan lomba dan kali kedua buat lintang. Walau tidak menang mereka tetap dapat hadiah karena bantuin bersihin sampah di taman :). Makasih ya kakak-kakak panitia.

Kalau bunda, selain makan banyak 🙂 ikutan lomba juga dong. Lomba balap kelereng dan lomba estafet memindahkan karet pakai sedotan. Walau cuma ikut 2 lomba, tetep bikin pinggang mo copot #jompo. Untung menang, horeee!! Juara 3 lomba kelereng.

Seru banget rasanya perayaan 17 agustus kali ini. Mungkin karena anak-anak udah pada gede dan bisa menikmati acara. Apalagi dapat banyak hadiah #tetep dan kenyang.

Dirgahayu ke-72 negeriku. Semoga tercipta keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Amin.

0

Camping di Cikole Jayagiri Resort

Jadi….selepas acara field trip komunitas hebat di Bosscha, kami lanjut ke Cikole Jayagiri Resort (CJR) untuk camping. Sudah lama rasanya kami tidak camping, terakhir bulan april di Cibodas. Sampai kangen tahu.

Camping ini juga terancam gagal sebenarnya karna waktu telepon ke CJR dibilangnya sudah tidak menerima camping pribadi, kalo mau camping sewa tenda sana #patahhati. Cari alternatif tempat lain, terlalu jauh dari Bosscha. Beberapa hari kemudian aku telepon lagi dan diterima oleh petugas yang berbeda, ternyata boleh camping pribadi *piye toh yo. Biaya camping pribadi juga terjangkau yaitu 20rb/orang/malam. Sedangkan kalau sewa tenda disana (termasuk matras dan sleeping bag) biayanya 400rb. Jauh kan ya…

Dari Bosscha ke CJR sekitar 30 menitan, kami sampai jam 9an malam. Jadilah Pak Candra mendirikan tenda dengan bantuan cahaya lampu senter #semangat. Duo bocah berhasil menahan kantuk sampai tenda berhasil didirikan dan kemudian mereka tidur pulas zzzzz….

Bangun tidur kami disapa suhu yang dingin. Kami membuat sarapan roti bakar, sari roti + mentega + ceres. Nyummm..pada doyan. Camping kali ini kami membawa bekal minimalis, karena kalau gak pengen masak ada pilihan buat nyari makan keluar. Tempat camping dekat parkiran dan dekat jalan raya yang sepanjang jalannya banyak warung (jalan ke arah tangkuban perahu). Di CJR juga ada yang jualan gorengan di pagi hari (dekat mushola) dan ada penjual bakso dan kopi juga di dekat area parkir.

Selesai sarapan,udara mulai menghangat. Kami memutuskan untuk jalan-jalan ke area camping belakang. CRJ ini sepertinya dulu disebut Bumi Perkemahan Cikole, kemudian dikembangkan menjadi resort dengan disediakannya tempat-tempat menginap, area gathering dan area outbound. Waktu kami camping saja, kami memilih camping di area baru yang belum selesai digarap karena area camping depan mau dibuat acara outbound pagi harinya. Kata pak satpam, area camping depan juga bakal dibikin spot foto-foto, oh….. Semoga masih menyisakan tempat buat camping. Karena kalau camping di area belakang, bisa bikin yang ngangkat barang encok karena jauh dari pakiran :).

Dengan berjalan kaki, kami menjelajah ke area camping belakang. Area camping belakang memang luas. Teduh dengan banyak pohon. Kami hitung ada lima blok area camping. Waktu kami kesana, semua area sedang dipakai oleh camping mahasiswa. Tersedia warung dan deretan toilet juga disana.

Berjalan keliling blok menguras energi kami, begitu balik ke depan jadi lapar *perut nasi minta jatah. Kami melaju ke arah turun lembang. Mampir beli susu KPSBU dan kebab di foodcourt yang ada di KPSBU. Kebabnya enak walau banyakan sayur dari dagingnya #15rb.

Setelah minum susu, Duo bocah mampir main di wisata petik srowberry Natural. Di Natural stowberry nya sedang banyak buahnya. Bunda hemat nanya dulu ke petugas berapa harga strowberry per kilo. Katanya 185rb. Wow kan ya…Si duo dibreafing buat petik @5 buah. Melenceng dikit sih jumlahnya tapi setidaknya cuma bayar 20rb untuk hasil petikan mereka. Pernah lintang dulu saking keasikan petik sampai harus bayar 60rb :). Oh ya, harga tiket masuknya sekarang udah 20rb/orang dan dapat jus strowberry.

Di natural juga ada penjual makanan, si Bapak dan si Anak pada doyan makan cireng. Bunda mah cukup membeli tanaman lidah mertua mungil seharga 20rb, harga tanaman disana termasuk murah menurutku. Ada kaktus juga, tapi aku lagi puasa kaktus *efek habis banyak ditinggal mati kaktus. Karena kebanyakan nyemil (nyemil?? Iyain aja ya 🙂 ), akhirnya kami bungkus sop iga di warung pinggir jalan buat makan malam.

Begitu sampai CJR kami langsung bablas ke area belakang yaitu Bandung Treetop. Pak Candra mau uji nyali dengan mencoba berbagai jenis permainan outbound. Harga tiket orang dewasa pada weekend 200rb dengan batasan waktu main 2 jam.

Di Bandung Treetop ada beberapa sirkuit yang bisa dilalui, dari yang mudah sampai amat menantang. Pak candra berhasil melewati semuanya, keren ah si Bapak. Paling deg-degan lihat dia loncat dari pohon tinggi dan bergelantungan seperti tarsan. Kalau Lintang selalu setia membuntuti bapaknya, sepertinya dia khawatir, oh anakku sungguh mellow dirimu. Oh ya, kalo mau main ini makan dulu ya biar KUAT.

Pak candra yang betisnya berkonde setelah selesai main lansung ngajak balik ke tenda, capek ya pak? Tak lupa selfi dulu dong dan ngabisin sisa jagung bakar (ini cuma ngemil kok).

Sisa sore kami lewati dengan selonjoran di tenda, anak-anak main tanah (gak ada capeknya nih bocah), makan sop iga dan mandi sore pake air es. Iya air di kamar mandi dingin banget kayak es.

Btw, teman-teman aku sering nanya “ada toiletnya gak sih tempat campingnya? Kalau memang campingnya di Bumi Perkemahan atau camping ground biasanya disediakan toilet umum. Kalau kami biasanya bawa selang pendek, gayung dan ember sendiri buat mandi. Biar merasa siap apapun keadaaa toiletnya :).

Malam kedua aku kedinginan dan malas keluar tenda.Tapi api unggun memanggil-manggil. Kami membuat api unggun dengan kayu yang dibeli disana seharga 25rb/ikat. Dengan api unggun di hadapan, hangaaat. Setelah api unggun mengecil, kami bersiap tidur. Tak lupa gosok gigi dung!!

Capek habis menaklukkan Bandung Treetop membuat juru masak kami mangkir bikin sarapan. Beli gorengan aja ah, hihihi. Harga gorengan 2rb/pcs dengan berbagai macam pilihan gorengan. Kelar sarapan sehat, bunda beberes tenda dan anak-anak main tanah dan abu sisa api unggun. Bunda berusaha tabah dan langsung kepikiran gimana nanti nyucinya, hikssss.

Badan penuh debu membuat kami harus memandikan Cakrawala & Lintang. Padahal niatnya kan langsung pulang gak pake mandi, hihihi. Itulah salah satu kenikmatan camping, anti keringat walau gak mandi :).

Sementara anak-anak mandi, Pak Candra membongkar tenda. Semangat Pak!!

Kelar mandi, duo bocah ngajak main bola. Di area camping depan aja ya yang luas dan berumput. Ternyata spot foto-fotonya mulai nampak disana.

Pulangnya kami lewat jalur ke arah subang. Jalannya bagus dan lancaaaar. Ada perkebunan teh dan deretan penjual nanas subang. Kami juga disuguhi hiasan 17 agustusan, orang-orangan dengan kostum dan bentuk lucu. Sukses bikin kami senyum-senyum.

Kami makan siang ayam penyet surabaya di kota subang. Per porsi 15rb an. Enak dan murah :). Perut kenyang, lanjut melaju masuk tol cipali. Alhamdulillah perjalanan lancar.

Senang sekali akhirnya bisa camping lagi. Insya Allah bulan oktober nanti kami camping di yogya. Semoga sehat semua. Amin.

0

Field Trip Komunitas Hebat : Observatorium Bosscha

Setelah dari Saung Angklung Udjo, kami lanjut ke bosscha (baca : boska). Aku sangat semangat menuju Bosscha. Cita-cita sedari dulu yang akhirnya kesampaian 🙂 *salah satu manusia yang terimbas film Petualangan Sherina. Bisa sih kesini gak bareng rombongan tapi dulu tahunya kalo sendirian gak bisa ikutan kunjungan malam yang artinya gak bisa neropong.

Kami sampai Bosscha sebelum jam 5 sore, jadinya nunggu bentar sebelum kunjungan dimulai. Udara disini dingin, silakan bawa jaket bagi yang gak tahan dingin.

Komplek bosccha sendiri sudah tua, namun masih terawat. Secara dibangunnya sebelum indonesia merdeka atas inisiatif para pecinta ilmu astronomi hindia belanda, salah satunya si Bapak Bosscha yang merupakan penyumbang dana terbesar. Beliau bukan seorang ilmuwan namun seorang pengusaha teh. Keren ya sumbangsih si Bapak. Hartelijk dank Pak.

Memasuki area bosscha

Kami memasuki area Bosscha menuju si kubah fenomenal. Di dalam ruangan kubah, kami bediri mengitari teleskop Zeiss. Teleskop Zeiss merupakan teleskop tertua dan terbesar di Bosscha. Kami mendengarkan presentasi singkat mengenai ilmu astromi, sejarah teleskop zeiss dan dilanjutkan penjelasan beserta demontrasi penggunaan teleskop Zeiss.

Yeaaay!!

Cakrawala si calon astronot

Besar kan??

Keluar dari kubah, kami lanjut ke ruang audio. Disana kami mendapat penjelasan lebih lanjut mengenai sejarah Bosscha dan ilmu astronomi. Prensentasinya bagus. Bikin orang awam astronomi jadi ngeh. Keren!! Lintang suka bagian video kenapa pluto bukan lagi planet dalam tata surya. Hayooo ada yang tahu kenapa?. Dia paling suka pas tahu ada bintang yang lebih besar dari matahari, yang kalo dibandingin ma bumi jauuuuh besar. Bagai titik si bumi. Apalagi manusia ya. Subahanallah.

Waktu presentasi juga diinfokan kalo sekitar bosscha sudah terlalu banyak polusi cahaya. Oleh karena itu dibangun laboratorium baru di Nusa Tenggara Timur. Horeee!! Namun disana tidak ada astronom karena semua dikendalikan dari bosscha. Keren ya!!

Menyimak!!

Keluar dari ruang audio ternyata langit udah gelap. Kami mampir ke toko souvenir sebelum ke area peneropongan. Lintang dan cakrawala membeli pin dan minuman dingin. Bunda beli stiker saja :). Ada souvenir lain juga seperti mug, kaos, miniantur kubah, topi dan gantungan kunci.

Semangat ke puncak acara yang ditunggu, ternyata ada ujian. Peneropongan agak terhambat karena gerimis dan langit mendung. Untunglah akhirnya langit sedikit cerah. Teleskop yang dipakai untuk pengamatan yaitu teleskop Bamberg (dalam ruangan) yang ukurannya besar dan dua teleskop portable yang ukurannya lebih kecil (di luar ruangan).

Seruu banget peneropongannya. Berasa jadi astronom :). Kami bisa melihat dengan jelas planet Saturnus dengan cincinnya, Jupiter si planet terbesar beserta satelitnya dan juga rasi bintang berbentuk kupu-kupu. Oh ya, bintang walaupun diteropong tetap seperti titik namun terlihat lebih jelas. Kalau planet ketika diteropong terlihat bulat sebesar koin.

Bamberg

Selesai acara hampir jam 8 malam. Suka sekali. Rasanya pengen balik lagi. Mana murah lagi tiket masuknya #tetep. Iya, tiket berlaku mulai usia 3 tahun senilai 20rb.

Apalagi ada info dari teman kalo ternyata ada kunjungan malam untuk perorangan sesuai jadwal yang ditentukan. Kalo baca di webnya, bisa mendaftar sebelum hari kedatangan via telepon.

Mau lagiiikk. Tuh ada kan ada jadwal di bulan September dan oktober. Iyes kan pak suami 🙂 .

Jadwal

0

Field Trip Komunitas Hebat : Saung Angklung Udjo

Ikut komunitas ini sebenarnya belum seminggu, tapi begitu ada acara field trip jumat kemarin kami langsung ikutan. Tujuannya menarik sih, Saung Angklung Udjo (SAU) dan Bosscha. Dua destinasi di Bandung yang belum pernah kami datangi #semangat.

Dari rumah jam 10 sampai SAU jam 12 kurang. Suami langsung siap-siap jumatan di dalam SAU dan kami menuju ke tempat makan siang. Oh ya kami yang ikut rombongan kena tiket 60/orang untuk dewasa dan 40/orang untuk anak diatas 4 tahun. Tiketnya berbentuk kalung dengan liontin angklung.

Di pintu masuk langsung disuguhi souvenir

Makan siang

Kelar makan siang, nunggu bentar sebelum pertunjukannya mulai jam 13.00. Pertunjukan yang khusus buat rombongan. Kalau di senin-jumat pertunjukan reguler nya jam 15.30. Saran, kalau kesini mepet ma jam pertunjukan ya biar gak lama nungguinnya 🙂 .

Tempat nontonnya berupa undakan melingkar. Kami swafoto dulu buat mengisi waktu menunggu #selalu.

Swafoto sebelum mulai pertunjukan

Pertunjukan pertama dimulai dengan wayang golek dalam bahasa sunda. Aku tidak mengerti sama sekali. Untung ada sedikit joke dalam bahasa inggris dan bahasa indonesia, jadi bisa ikutan ketawa.

Performance selanjutnya arakan pengantin sunat disertai tarian dan permainan angklung. Meriah.

Melihat pertujukan ini emang khas anak-anak ya. Ada yang ngobrol ma temennya, ada yang tatapannya kosong dan ada yang bersemangat banget tampil 🙂 .

Pertunjukan ketiga yaitu tari topeng. Entah knapa dari dulu saya cenderung bosan nonton tarian. Perlu banget diasah nih jiwa seninya.

Paling suka waktu semua penonton dipinjami angklung. Kami diajari cara pegang, mainin angklungnya sampai bikin lagu sama-sama. Seru!!

Jadi pengen belajar main angklung. Ada dijual disana 1 set angklung tapi kita gak beli 🙂 . 1 set ukuran sedang dengan 8 nada harganya sekitar 200rb an. Pengennya nyari di tempat lain yang lebih murah. Eh bener aja, ternyata teman ada yang dekat rumahnya ma pengrajin angklung #luckyMe #emakhemat.

Terima kasih ya teman-teman Komunitas Hebat Priangan.

Note : kalo kesana, cobain ya es lilin yang dijual di kantin seharga Rp. 3.500. Enak #tetep.

2

Cerita Mudik Lebaran 2017 : Transit Semarang

Entah kenapa aku jarang bisa menuliskan cerita mudik di blog ini. Apa karena kebanyakan makan gulai kambing pas di kampung ya? Untuk kali ini, akan kucoba mengerahkan segenap jari untuk menulis cerita selama mudik kemarin. Ayo kita mulai dengan Semarang  #bismillah. 

Kami itu selalu menjadikan Semarang sebagai kota transit setiap perjalanan kami ke arah timur karena letaknya di tengah antara Bekasi – Probolinggo (entah setengah lebih atau setengah kurang -pastinya).

Walaupun sering dimampiri, kami tidak pernah merasa total menjelajah semarang baik tempat wisata, belanja ataupun kulinernya. Penyebab pertama, kami sering sampai di Semarang ketika sudah larut malam, capek dan kasur hotel lebih menarik. Kedua, ketika paginya kami udah kenyang sarapan dengan menu hotel dan melanjutkan leyeh-leyeh di kasur. Ketiga, mungkin karena merasa nanti juga bakal lewat lagi, hohoho.

Lah kemarin itu, dengan adanya tol fungsional Brebes – Gringsing kami bisa lebih cepat sampai Semarang.  Sedangkan pada perjalanan balik ke bekasi, kami brangkat dari Probolinggo malam hari (biasanya pagi) sehingga bisa sampai Semarang keesokan siangnya. 

Ada beberapa kuliner yang kami cicipi selama di Semarang *mendadak lapar. Urutan pertama adalah Nasi Goreng Babat. Nasi goreng babat yang kami kunjungi yaitu Nasi goreng Babat Sumarsono dan Nasi Goreng Babat Pak Karmin. Yang lebih masuk di lidah jawa timur kami nasi goreng babat Pak Sumarsono, nasi goreng babat Pak Karmin terlalu manis buat kami. Selain itu nasi goreng babat Pak Sumarsono juga lebih banyak babat dan rekan-rekan sesama jeroan-nya #nyuuum. 


Nasi goreng babat Pak Sumarsono (atas) VS nasi goreng Babat Pak Karmin (bawah).

Kuliner kedua yaitu Ayam Goreng Pak Supar. Kesini atas rekomendasi temannya paksu. Aku gak ikutan makan soalnya waktu itu udah malam banget dan aku merasa cukup dengan makan lunpia saja *pencitraan. Kata Pak Candra ayam goreng nya uenak. 


Selain makanan berat, kami juga mencoba makan es krim di Toko Oen. Pilihan kami adalah es krim vanila dan coklat yang harganya paling murah #hemat. Masing-masing gelas mendapat 2 scoop. Rasanya enak tapi menurutku tidak istimewa. Harganya juga mahal untuk aku yang biasa beli es krim walls hehehehe. Per gelas harganya 20rb an. 

Selama menjadikan Semarang sebagai tempat menginap, kami belum pernah mencicipi cemilan khas semarang macam lunpia, wingko babat, tahu bakso, bandeng presto dan tahu petis dll. Mudik kemarin kami berhasil memakan semuanya kecuali dll. Horeeee!!!

Lunpia kami beli di seberang Toko Oen, namanya lunpia semarang. Harga satu lunpianya 15rb dan ukurannya besar. Cukup buat makan malam *pencitraan lagi. Rasa? Aku kurang menikmati. Lagi-lagi kemanisan buat aku. 

Merasa kurang puas dengan lunpia kami beralih ke tahu petis. Pilihan kami jatuh ke tahu petis yudhistira setelah melihat jarak dan review di google map. Tempatnya agak masuk dari jalan raya, di samping rumah gitu. Tapi tempatnya kekinian dan bersih. Kami betah disini. Disini juga jual lunpia dan tahu bakso ikan serta oleh-oleh jajajan semarang. Pengunjung bisa memilih makan ditempat atau take away. Kami bungkus tahu bakso, tahu petis dan satu botol petis.  

Bandeng presto pun kami datangi. Terletak di pojokan jalan pandanaran, gedung baru dengan ornamen bandeng besar di tembok depannya menarik perhatian. Tapi, pas masuk kedalam, entah AC nya mati atau memang gak pake AC, gerah banget. Bikin gak betah blanja. Yang paling mengenaskan toiletnya kotor. Heran saya, padahal bangunan baru lho. Untunglah kami menemukan permen asem kesukaan disini dan juga wingko babat yang enak (lupa merknya 😦 ). oh ya, untuk bandengnya rasa biasa menurut aku.  Harganya untuk 1kg sekitar 100rb an. Gak punya foto di tempat ini, gak konsen habis kena bau toilet dan kepanasan pula :). Semoga nanti bisa lebih bersih lagi ya Bandeng Presto….

Selain berkulineran kami juga sempat menikmati malam di Simpang Lima. Rame banget pas malam minggu. Susah pula nyari parkiran. Kami menjajal naik kendaraan kayuh yang penuh lampu itu. Harga sewanya 40rb, dikayuh sendiri untuk 1 putaran keliling simpang lima. Ada juga permainan anak kayak mobil-mobilan di dalam simpang limanya. 

Kejadian terpenting (versi bunda tentu 🙂 ) adalah ayah nganterin bunda ke showroom sango. Yeaaay!! Padahal letaknya jauh loh dari hotel. Makasih pak suami tercintah. 

Showroom sango ini terletak di lantai dasar Plasa Semarang. Ada 3 ruangan. Ruangan pertama menjual sango yang diskon sd 60% karena produknya stok lama atau ada cacat dikit (foto diatas). Pengen banget aku lama disini, tapi lihat duo Lintang Cakrawala lari muter-muter diantara rak, aku ngeri. Jadinya aku keluar ruangan ini dengan tangan hampa, hikss.

Ruangan kedua berisi aneka produk samgo dengan harga normal, motif-motifnya bikin ngiler *ambil lap. Di ruangan ini aku juga keluar dengan tangan hampa. Bukan, bukan karena mahal tapi gak ada yang aku butuhkan di ruangan ini  *mencoba bijak 🙂 .

Sedangkan ruangan ketiga berisi produk sango polos putih dan aneka perlengkapan rumah tangga berbahan plastik, stainless stell dll. Aku beli sesuatu disini. Horee!! Sebuah teapot sango berwarna putih untuk melengkapi koleksi cangkir ku. Pssst, alasan membeli teapot ini yang kupakai ke paksu, hihihi. Padahal beli di toko biasa juga ada ya #rahasia. 

Terus beli apa lagi? Sama sendok sayur. Itu doang? Hihihi….namanya juga melepaskan diri dari kekepoan. 

Semarang ternyata banyak banget tempat makan enak ya. Masih banyak nih list yang belum dicontreng. Sampai jumpa akhir bulan ini ya Semarang…