2

Nonton Perdana 2019

Inginnya nonton perdana berdua dengan suami, namun anak-anak yang batuk bergantian dalam 2 minggu kemarin membuat kami tak mungkin menitipkan mereka. Jadilah begitu 2 bocah sehat dan ada film untuk Semua Umur (SU), kami ajak mereka nonton.

Awalnya ingin nonton Bernie The Dolphin yang sudah duluan tayang. Namun ketika melihat poster Lego The Movie 2, Lintang mengajukan proposal buat nonton lagi. Hari itu movie marathon deh. Capek ya ternyata nonton 2 film berurutan. Terus Efek film ke kepala dan hati jadinya nyampur-nyampur.

Tentang Film.

Untuk film Bernie the dolphin, ide ceritanya sederhana yaitu 2 Kakak beradik yang suka main di alam dan mengetahui ada pengusaha nakal yang bekerjasama dengan walikota akan membangun pabrik secara ilegal di pinggir pantai. Namun ide cerita itu disajikan dengan seru ala film sana. Lalu melihat bagaimana orangtua berinteraksi dengan anak di film itu juga sangat menarik. Anak mandiri dan orang tua yang menghargai sungguh perpaduan yang mengasyikkan untuk aku yang haus belajar menjadi orangtua.

Kalau bagi anak-anak, tentu bagian menariknya beda. Mereka gemes banget sama tingkah si Bernie (si lumba-lumba imut lucu) dan ikutan seru pas adegan 2 Kakak beradik melakukan aksi-aksi heroik.

Satu lagi yang menarik, ada adegan dimana 2 Kakak beradik (aku lupa nama mereka😁) yang buru-buru dengan naik mobil golf, namun tetap dong tak menerobos lampu merah walau malam dan sepi. Good!.

Untuk Film The Lego Movie 2, ini tentu lanjutan film pertama yang mana aku belum nonton. Tapi tetap bisa kok menikmati film keduanya. Banyak kiasan untuk bisa dimengerti anak-anak menurutku. Namun aksi-aksi di film dan animasinya yang bagus tetap bisa dinikmati.

Kalau kata Cakrawala (4yo) filmnya terlalu lama. Mungkin efek movie marathon juga. Tapi kalau Lintang (7yo) lebih menikmati. Apalagi lintang memang penyuka Lego dan film aksi.

Jadi kalau ditanya mending nonton mana? Tergantung selera.

Yuk nonton😊.

Advertisements
2

Buku Keempat @2019: Si Anak Pintar

Setelah membaca burlian, aku jadi penasaran sama 3 buku lain tentang kisah anak-anak mamak yaitu Eliana, Pukat dan Amelia. Jadilah pas di Jogja (dalam perjalanan balik ke rumah) aku mampir ke Gramedia. Tapi aku kecewa, ternyata di Gramedia Jogja sudah ganti semua bukunya dengan sampul baru. Jadinya gak matching deh dengan buku Burlian punyaku. Mana sekarang itu judul bukunya bukan nama lagi tapi sebutan masing-masing anak.

Burlian yang beda sendiri

Buku Si anak Pintar ini berkisah tentang masa kecil anak-anak mamak melalui kaca mata Pukat. Burlian dapat porsi lumayan juga di buku ini, soalnya si Burlian teman main Pukat. Mereka cuma beda usia 1 tahun.

Di buku ini, aku paling suka kisah mereka membuka hutan untuk ladang. Seru!! Tinggal dekat hutan itu mimpi masa kecil banget.

Ketegasan mamak juga mengispirasi, hehehe….Kayaknya kalau aku hidup di masa itu, aku tipe ibu semacam mamak ini lah😁.

Masih ada 2 buku lagi tentang Eliana dan Amelia plus kisah mamak sendiri di buku si anak cahaya. Tak sabar ingin menuntaskan di bulan ini. Semangat membaca💪💪.

2

Perpustakaan di Bandung

Adanya pembangunan jalur LRT dan tol layang di sepanjang tol menuju Jakarta, membuat jalanan seringnya macet. Jadilah Bandung saat ini lebih mudah digapai daripada Jakarta.

Ke Bandung itu menyenangkan karena banyak pilihan kulinernya. Walaupun Kami sih paling nyobanya itu lagi itu lagi😁.

Kalau tempat wisata, kayaknya yang mainstream udah pernah dicoba smua😎. Ke Bandung jadinya lebih ke menikmati suasana kotanya seperti muterin jalanan, belanja, mampir ke Taman kota, ke museum dan perpustakaan.

Perpustakaan di Bandung kalau dilihat di Google Map banyak juga. Sejauh ini Kami baru sempat berkunjung ke tiga perpustakaan.

Pustakalana.

Pustakalana ini perpustakaan anak. Dia menempati sebuah ruangan di lantai 2 di Selaras Guest house. Koleksi bukunya menyenangkan. Selain buku juga ada mainan. Mereka suka bikin acara seru. Coba deh follow IGnya @pustakalanalibrary.

Bapaknya juga kerasan ini sepertinya😉

Cakrawala di manapun konsisten ketertarikan akan binatang.

Kineruku.

Tahu kineruku pertama dari postingan teman IG (definisi teman yang mungkin kau tahu dia sedang dia tak tahu kau, gak papa lah ya menganggap teman😂).

Kineruku ini ada di daerah perumahan dan menempati sebuah rumah tua nan asri. Ada jajaran kursi di tiap ruangan dan teras. Ada juga halaman belakang yang terlihat nyaman untuk tempat membaca, sayangnya kami dilanda hujan waktu itu.

Koleksi buku anak di sini tak banyak. Namun si duo tetap bisa membaca buku-buku ensiklopedia yang memuat gambar-gambar seru. Oh ya, disini juga bisa pesan makanan. Enak.

Bisa kepoin si kineruku ini di akun Instagram mereka @kineruku.

Menikmati buku

Menikmati nasi goreng dan pisang goreng.

Perpustakaan Gasibu.

Tentu familiar dengan nama Gasibu Kan? Yup, perpustakaan gasibu ini ada dalam komplek lapangan gasibu.

Di bagian depan kursi buat berkomputer, di belakangnya jejeran rak buku.

Koleksi buku anak di sini banyak, ada 1 sisi rak sendiri buat buku anak. Membuat aku dower membacakan buku buat si duo😁.

Ada “kejadian” ketika kami membaca buku di perpustakaan gasibu ini. Saat aku membacakan buku, di depanku seorang anak perempuan sedang asyik memilih buku. Namun aku merasa anak ini berbeda, analisaku mengatakan sepertinya dia anak jalanan. Oh, hatiku merasa tak nyaman ketika mengetahui itu.

Aku lekat memperhatikannya, terlihat senyumnya mengembang setiap kali dia mengambil buku. Senyum tulus itu menampar kesombonganku.

Oh Tuhan, rasanya jahat sekali diriku. Apalah aku ini tanpa semua karuniaMu🙏🙏.

Smoga banyak kebahagian menyertaimu dik.

2

Terpengaruh Pergaulan

Judulnya udah kayak film Remaja. Tapi beneran pergaulan itu mempengaruhi bahkan untuk ibuk-ibuk macam saya😂.

Kejadian bermula ketika saya ikut tahsin (belajar ngaji) bersama ibu-ibu komplek. Sebagai anak baru tak tahulah saya kebiasaan di tempat ngaji itu ya. Pergilah saya dengan dandanan baju rumahan + sandal jepit + tas goodie bag acara.

Ternyata oh ternyata, ada beberapa ibu yang dandanannya Oks banget, baju rapi macam ngemall + make up stunning + tas branded. Saya seketika berasa jadi itik buruk rupa padahal biasanya saya santai aja sih. Apalagi ketika obrolan sebelum atau setelah ngaji bahas tas, aku merasa “gak banget”. Mulailah diriku pakai baju agak rapi + lipstikan + pakai tas beneran (walau bukan branded😅).

Ternyata obrolan tas masih lanjut di pertemuan-pertemuan selanjutnya. Karena tertanya kita kepo sama si ibuk-ibuk yang tasnya ganti mulu. Mana harga tasnya konon jutaan. Wow banget buat saya yang beli tas diatas 200rb aja berasa mahal, hahaha.

Akhirnya obrolan tas ini masuk pada suatu kesimpulan yaitu gimana kalau arisan Tas (teremak-emak banget ini). Aku gimana?? Ikutan dong ah dengan restu suami *salim. Dengan jangka waktu 10 kali kocokan, resmilah saya jadi member arisan tas.

Bulan Februari ini, setelah kocokan ke-6 saya dapat arisan. Horeeee!! Tapi ternyata dapat tasnya tak se-happy ketika ngobrol tentang tasnya ya. Apalagi ada masalah baru, dimanakah saya menyimpan tas mahal itu? Secara tas-tas saya yang receh itu tak memerlukan perawatan khusus.

Oh ya, satu lagi. Apakah saya akan ikut arisan selanjutnya?? Insya Allah tidak, kan saya mau belajar hidup minimalis buuuk dan arisan itu bayarnya gak minimalis (baca: hemat).

Eh satu lagi, Aku bingung mau dipakai kemana itu tas mahal ya. Ada ide??

7

Buku Ketiga : The Naked Traveler 8

Horeee! Tamat buku ketiga di bulan ini. Alhamdulillah.

Beneran deh, utak-atik hp itu kadang bikin gak berasa kalau udah ngabisin waktu 1 jam-an untuk scroll aneka sosmed. Padahal kalau membaca bisa habis puluhan halaman.

Berhubung tahun ini aku ingin banyak membaca, aku mengurangi diri untuk oprek Hp. Susah banget buat aku yang doyan sosmed ini 😁.

Jadi mari selamati diri untuk pencapaian 3 buku ini. Selamat wulan😊.

Oh ya, buku ketiga yang aku baca adalah The Naked Traveler 8. Sebagai pembaca buku Trinity dari seri pertama, begitu tahu ada buku ke-8 ini aku langsung nyari di toko buku.

Efek membaca buku trinity itu seperti diajak jalan-jalan rasanya, seru. Kalau lagi ingin membaca buku dengan santai sebagai teman menunggu, buku ini aku pilih. Semacam buku yang dibaca bulan ini namun kalau dilanjutkan 3 bulan lagi masih Ok rasanya. Akan berbeda dengan novel, yang kalau tak langsung habis dibaca dalam satu kurun waktu, akan hilang keutuhan rasanya.

Betewe, Buku ini adalah seri terakhir dari The Naked Traveler. Kenapa jadi seri terakhir dijelaskan dalam buku ini. SEDIH aku harus berpisah dengan seri buku ini. Terima kasih telah berbagi kisah selama ini ya mba Trinity😘.

4

“We Time” di Bioskop

Menonton adalah favorit saya dan suami. Dulu semasa anak-anak kecil tak memungkinkan untuk kami ke bioskop. Paling nonton film pakai DVD, via HOOQ atau nonton stand up comedy di Youtube. Tapi seringnya saya ketiduran kalau nonton di rumah, lawong nontonnya malam nunggu anak-anak tidur.

Sejak si adik umur menuju 4 tahun, sudah bisa tuh ditinggal nonton. Tapi dapat ijinnya lama, banyak embel-embelnya dan ketika pulang muka anak-anak udah kayak kangen banget.

Baru ketika si adik menjelang 5 tahun ini, mereka baik-baik ditinggal nonton, dan malah ortunya yang mellow melihat anak-anak yang baik-baik saja. Saya belum meneliti penyebabnya (pakai metode apa ya 😁). Entah karena memang sudah umurnya (mereka menjadi semakin dewasa) atau karena sudah terbiasa pada kondisi melepas ayah bunda nonton. Apapun itu, terima kasih ya anak-anak 😘.

Sejauh ini kami seringnya nonton film indonesia, dan suami juga tak anti film indonesia. Memang sih jika dibandingkan film barat masih ber-gap, tapi kalau tak ditonton kapan film Indonesia punya modal untuk menyusul gap itu.

Biasanya saya pilih film indonesia yang reviewnya bagus, sutradaranya oke atau yang aktornya saya suka. Setelah itu baru diajukan proposal nonton ke suami. Kalau dia kurang tertarik, dirayulah dengan berbagai cara agar mau, hahahaha. Tapi biasanya pilihan saya tak mengecewakan kok (iyain aja ya😁).

Alhamdulillah tahun 2018 kemarin kami memecahkan rekor menonton bersama di bioskop. Total 6 film yang kami tonton, WOW.

Film pertama yang kami tonton Wiro Sableng di tanggal 6 September. Setelah itu “Aruna dan Lidahnya” (demi liat duo Nicho Dian), Bohemian Rhapsody, A Star is Born, Fantastic Beast, dan yang terakhir “Milly dan Mamet” di tanggal 25 Desember. Saya sampai menulisnya di jurnal buat kenangan😊.

Film favorit saya tahun lalu, Bohemian Rhapsody, karena bikin saya berurai air mata, terus lagu-lagunya enak banget dan akting Rami Malek jempol kuadrat.

Tempat nonton kami tak dimonopoli satu merk. Kadang nonton di Cinemaxx, XXI atau CGV. Lebih suka nonton di Cinemaxx karena dekat rumah, tapi kalau harga mending XXI.

Semoga tahun ini banyak ber-we time dengan suami demi terwujudnya kehidupan yang dinamis optimis romantis😊.

4

Cerita tentang Hidup Minimalis #1

Tahun ini rencananya (moga tercapai😉) mau belajar hidup minimalis. Kenapa? Salah satu alasannya karena tak ingin banyak memproduksi sampah. Apalagi kalau sampahnya bukan untuk alasan yang memang butuh banget. Oh…jadi ingat gantungan para tas yang jarang dipakai *ampuni aku bumi🙏.

Langkah mudah untuk memulai minimalis, yaitu dengan menyortir barang-barang kita. Aku masih mulai dengan per objek, misal: baju, peralatan dapur dan buku.

Pertama, aku sortir dunia dapur. Termalas ini, karena aku tahu akan banyak “harta karun” yang harus disortir. Segala macam kotak makan dan tumbler yang ditengarai berlebih aku sumbangin. Kalau di Jabodetabek barang bekas bisa disumbangkan ke “Babeku”. Kemarin itu juga nyumbangin sepeda masa kecil Lintang. Hal semacam ini bisa sebagai sarana belajar anak untuk ikhlas melepaskan. Karena bahwasanya semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan bukan? *Ter-mama dedeh😊.

Terfavorit menyortir adalah sortir buku dan majalah. Aku bahkan dicap tukang buang ma anak-anak *aduh. Anak-anak kan gitu ya, segala disimpan (misal: kotak bungkus mainan) sampai bingung naruhnya dimana lagi🤔. Jadi kalau ada kesempatan untuk disumbangkan atau dibuang, aku gercep.

Kalau sumbangin buku aku biasanya lewat 1001 buku. Mereka ini organisasi nirlaba dalam bidang literasi. Buku yang kita sumbangan nanti akan didistribusikan ke seluruh taman baca di Indonesia. Kenapa gak langsung? Karena kadang aku gak tahu apakah profil si taman baca akan cocok dengan buku yang bakal disumbangkan. Terus satu lagi, kalau lewat 1001 buku juga hemat ongkir kerena lokasinya di Jakarta.

Pernah juga aku nyumbang buku lewat program Hari Kirim Buku Gratis itu, tapi sayang kabar terakhir progran dihentikan sementara karena masih tahap pembahasan antara Pos dan Kemendikbud mengenai kelanjutan program ini. Moga cepat kelar negosiasinya. Karena program kirim buku gratis ini sungguh membantu Taman Baca yang ada di pelosok negeri.

Silakan follow IG @pustakabergerak.id untuk tahu Taman Baca yang mungkin dekat dengan rumahmu dan bisa jadi target kiriman buku.

Kala itu sebelum berhenti programnya😔, di setiap tanggal 17 bisa kirim buku gratis.

Favorit kedua untuk disortir adalah baju. Karena melihat lemari lega itu membahagiakan. Tapi kok ya penuh lagi setelahnya, ckckckck… Semoga dengan niat minimalis ini sungguh akan mengurangi minat belanja bermodus cuci mata *amin.

Selain sortir barang fisik, Aku juga ingin mulai membiasakan bebersih ponsel. Aku punya 2 alamat email, satu dengan nama alay (semua pernah alay kan ya😌) dan yang kedua agak genah😊. Kemarin itu aku unsubscribe semua email langganan karena kayaknya gak pernah dibaca juga sih. Terus sekarang mulai memindah semua kegiatan per-email-an ke satu akun email saja. Biar nanti bisa nutup akun satunya *let it goooo.

Bebersih virtual juga kulakukan pada chat WA. Berhasil keluar dari 2 grup karena sepertinya tak memberikan peningkatan hal positif ke diri. Trus sekarang juga kusediakan waktu untuk clear chat dan hapus file tak penting di HP. Target selanjutnya transfer foto ke laptop. Katanya tak perlu buru- buru yang penting sedia waktu dengan konsisten.

Semoga aku bisa menggunakan harta dan waktu dengan bijak. Amin.

Semangat💪💪!!