7

Pengalaman Tes TPA Bappenas.

Salah satu persayaratan masuk S2 di kampus tujuanku adalah sertifikat hasil TPA (Tes Potensial Akademik). Ada 3 macam TPA yang diakui dan 2 diantaranya dilakukan tes di Yogyakarta. Aku yang berdomisili di bekasi tentu butuh usaha lebih untuk ke sana, sehingga aku putuskan untuk ikut TPA Bappenas yang tempat tesnya tersebar seantero Indonesia. Jadwal tes bisa dilihat di sini. Dari mengulik jadwal dan mempertimbangkan akan tes TOEFL juga, dipilihlah jadwal  di tanggal 12 Mei 2019 yang bertempat di IPB.

Pagi itu setelah sahur dan sholat subuh, di jam 6 pagi kami berangkat menuju Bogor. Pagi sekali kami sampai di bogor karena jalanan lancar saat itu.

Aku menunggu tes dengan rasa deg-degan. Seminggu lamanya belajar membuatku merasa siap namun karena sudah lama tak menghadapi tes semacam ini, aku merasa tak tenang.

Setelah ditemani pak suami menunggu jam 9 dimulainya tes, jam 8.45 aku menuju ruang tes. Ternyata kursi-kursi sudah terisi dan yang ikut tes banyak juga. Kursi-kursi itu juga sudah ditempeli dengan no peserta dan aku kebagian duduk paling belakang.

IMG_20190512_083743

Jam 9 tepat, petugas dari Bappenas membacakan peraturan selama tes. Setelah itu kertas jawaban dibagikan dan kami diminta mengisi kolom nama dan identitas lainnya. Para peserta juga diperbolehkan untuk ke toilet sebelum tes karena selama tes para peserta tidak diperkenankan untuk meninggalkan ruangan, kecuali ibu hamil dan peserta yang sedang sakit.

Tepat di jam 9.30 tes dimulai. TPA ini dibagi menjadi 3 subtes yaitu tes kemampuan verbal, tes kemampuan kuantitatif dan tes kemampuan penalaran. Masing-masing subtes dalam keadaan tersegel. Segel tersebut baru boleh dibuka ketika sudah dapat intruksi dari petugas. Jadi setiap subtes punya waktu tertentu dan apabila waktu habis/sisa, kita tak boleh kembali membuka soal subtes sebelumnya atau maju ke soal subtes setelahnya.

Subtes pertama yaitu kemampuan verbal. Aku bisa mengerjakan dengan baik soal-soal di sini bahkan masih memiliki sisa waktu. Namun tentu tak boleh mengerjakan subtes ke-2. Jadinya aku pilih meneliti lagi kolom-kolom identitas yang mungkin terlewat.

Pada subtes kedua yaitu kemampuan kuantitatif. Aku bisa mengerjakan perhitungan-perhitungan matematis itu, tetapi aku kelamaan dalam waktu pengerjaan tiap soalnya. Jadilah ketika waktu sudah tinggal 15 menit, masih banyak soal yang belum aku kerjakan. O–EM–Ji. Lalu bagaimana strategi aku? TPA ini tidak mengenal pengurangan nilai karena mengisi jawaban dengan salah. Akhirnya aku cari soal-soal yang aku lemah dalam mengerjakan yaitu soal-soal cerita, dan aku putuskan untuk cap cip cus menghitami lembar jawaban sambil berdoa semoga ada yang benar (skill lama ketika sekolah ini 🙂 ). Karena masih ada sisa waktu, kemudian aku kerjakan soal-soal perbandigan yang mana aku relatif cepat dalam mengerjakan. Tepat di saat waktu habis, semua soal sudah dijawab. Alhamdulillah. Sungguh terdeg-degan di subtes ke-2 ini.

Subtes terakhir yaitu kemampuan penalaran. Soal-soal pertama bisa kulalui dengan gemilang namun begitu bagian belakang aku kebingungan. Soal mengenai analogi gambar dan tes bangun ruang tak begitu dalam aku pelajari dan ternyata kedua macam soal itu banyak. Aku yang belajar sekilas kedua tema itu jadi pusing pas ngerjainnya. Bangun ruangnya bukan cuma kubus dengan sisi yang persegi, namun sisi bangun ruangnya sudah banyak segi bahkan melengkung pula. Bisa dibayangkan? hehehe… Aku tak yakin dengan jawaban-jawabanku, namun kukerjakan juga.

Ketiga subtes berhasil dijawab dengan hitamnya pensil 2B. Kami meninggalkan ruangan setelah kertas jawaban diambil oleh petugas.

Di mobil dalam perjalanan pulang aku curhat banyak ke suami mengenai tes. Sepanjang jalan, banyak berdoa dalam hati semoga nilai tesnya melebihi persyaratan yang diminta.

Tiga hari setelah tes, di hari rabu siang, Ibu Herlin dari IPB mengirim email nilai TPA. Aku yang menunggu dari hari minggu, membuka email dengan tak sabar. Melihat nilai itu aku lega, nilaimya 495, melebihi nilai minimum yang diminta yaitu 450. Alhamdulillah.

Dokumen aslinya baru dikirim seminggu setelahnya. Ada opsi untuk diambil di bogor atau Jakarta. Namun karena aku tinggal di bekasi, tentu kupilih opsi dikirim via JNE saja.

IMG_20190522_073713

 

Pengalaman ikut TPA ini tentu menjadi pengalaman pemanasan yang SERU sebelum mulai kuliah. Aku yang selama ini sudah tak bersentuhan dengan dunia tes, menantang diri untuk belajar lagi. Dari belajar selama seminggu, aku merasa bahwa kunci dari TPA ini adalah latihan soal. Karena ketika sudah banyak latihan soal, kita jadi terbiasa dengan pola penyelesaianya dan jadi cepat deh mengerjakan. Bagi yang mau TPA, semangat ya!!!

Betewe, aku belajar TPA dari buku dibawah ini. Latihan soalnya mirip dengan soal TPA asli. Sangat membantu.

IMG_20190522_070921

 

 

Advertisements
6

Rencana S2

Bermula dari obrolan malam di dalam mobil sepulang dari rumah teman, menghantarkan kami pada rencana melanjutkan kuliah. Awalnya mas candra yang mau kuliah, namun kemudian bergeser ke aku.  Menimbang peran yang akan diambil di masa depan dipilihlah jurusan Teknologi untuk Pengembangan Berkelanjutan (Technology for Sustainable Development). Alhamdulillah ada jurusan tersebut di sebuah PTN terkemuka di Yogyakarta.

Yakin dengan jurusan tersebut, aku mulai menilik syarat-syarat untuk pendaftaran. Dari sekian persyaratan, aku mulai berusaha menggenapi. Tantangannya terletak pada TPA dan TOEFL. Yang mana aku tak punya kedua dokumen tersebut.

Aku punya waktu 3 minggu sebelum batas akhir pendaftaran gelombang pertama. Sengaja memilih gelombang pertama agar pengiriman dokumen ke jogja bisa skalian mudik lebaran.

Browsing sana sini untuk tahu jadwal TPA & TOEFL tercepat dan terdekat, ketemu di Bogor dan Jakarta dengan jarak 1 minggu antar tes. O-Em-Ji……..

Aku yang udah lama gak nyemil materi TPA (kayaknya terakhir TPA pas tes masuk kerja 11 tahun lalu deh), berusaha belajar dalam waktu 1 minggu. Mengingat lagi pelajaran matematika lumayan bikin ngebul otak, apalagi di saat puasa. Pas hari tes alhamdulillah bisa mengerjakan walau banyak yang cap cis cus karena kehabisan waktu. Semoga nanti bisa bikin postingan terpisah tentang TPA ini.

Kalau untuk TOEFl, aku sungguh lupa tentang structure. Belajar dari awal banget dari buku jadul semasa kuliah. Lumayan mencerahkan dan bikin berasa punya modal tempur, hehehehe…

Oh ya, aku belajar dari kedua buku dibawah ini. Sangat membantu. Aku beli di Togamas Bandung dapat diskon 15% dan gratis disampulin pula. Suka!.

IMG_20190504_171923

Ketika tulisan ini terbit, hasil tes TPA sudah keluar namun masih menunggu hasil TOEFL seminggu lagi. Aku kepo maksimal. Semoga semua berjalan baik dan lancar. Amin.

Semangat!!

0

We Time Ke Bioskop : Pikachu dan Upin Ipin.

Menonton di Bioskop adalah salah satu kenangan masa kecil bersama Bapak yang aku ingat dengan baik. Perasaan ketika itu masih menghangatkan hati hingga sekarang. Ketika kutanya kenapa? Aku menebak mungkin di saat itu terjadi “We Time” antara bapak dan anak.

Itulah mengapa di keluarga kami, We Time ini sebagai suatu kesengajaan yang dibuat. Yang saat ini regular yaitu camping dan nonton.

Untuk menonton di bioskop selalu kupilih rate film Semua Umur (SU). Kenapa? Lebih ke mengajarkan mereka untuk care terhadap aturan yang dibuat dan tentunya tak ingin mengganggu penonton lain.

Menonton di bulan mei ini terjadi ketika kami bertiga puasa (cakrawala si bungsu belum puasa). Entah kenapa banyak film anak yang muncul di bulan puasa ini. Kami jadi tak bisa ngunyah popcorn. Tapi jadi lebih hemat sih, hahahaha….

Film pertama yang kami tonton Pokemon : Detective Pikachu. Anak-anak sudah familiar dengan pokemon ini. Mereka bahkan punya mainan bola dan monster pokemon. Walaupun mereka tak mengerti bahasanya, mereka tetap bisa menikmati film karena munculnya monster-monster yang lucu selama film. Aku juga suka filmnya, terutama di bagian terakhir *uppsss.

Film kedua adalah film anak sejuta umat. Tak cuma sekali rasanya bertemu anak-anak berlogat melayu ketika bicara karena kebanyakan nonton film duo gundul ini. Anak-anakku tak sampai berlogat betul..betul….betul… sih tapi mereka berdua suka upin ipin. Lintang yang homeschooling sampai pernah ingin sekolah karena katanya enak sekolah kayak upin ipin 🙂 .

Yang mengagetkan, aku suka loh nonton filmnya. Pewarnaan dan sinematografi filmnya bagus. Ceritanya juga seru. Memang sih ada unsur-unsur kekerasan tapi anak-anak gak fokus ke detail kekerasannya. Kami malah asyik membicarakan tentang keris setelah menonton. Seperti judulnya Upin Ipin : Keris Siamang Tunggal, film ini memang berkisah tentang bagaimana keris bernama siamang tunggal ini membantu melawan si jahat. Seru!.

 

 

2

Hidup Lebih Hijau.

Tahun ini kami sekeluarga ingin berusaha mengurangi dan mengolah sampah. Tanam-menanam juga digalakkan lagi.

Diawal-awal kami suka lupa buat bawa kantong belanja, kotak makanan, sapu tangan dan sedotan stainless. Tapi makin kesini, mulai terbiasa membawa semua perbekalan itu ketika ke luar rumah.

Selain lupa, tantangan minim sampah juga datang dari pihak ketiga (bukan setan ya). Paling sebel kalau makan di luar terus masih dikasih sedotan padahal sudah bilang “jangan dikasih sedotan ya mas”. Harus memperbanyak sabar juga kalau ada penjual yang maksa ngasih plastik di saat aku lupa bawa kantong belanja padahal belanjanya itu cuma sedikit. Aku dengan senyum, “gak usah plastik mas”. Si mas dengan heran, “Gak papa mba”. Aku dengan senyum berkurang, “gak usah mas” sambil membawa kabur belanjaan (sesudah bayar tentunya 🙂 ).  Malas banget rasanya dipandang aneh kalau gak mau dikasih plastik. Kami itu memang belum #zerowaste tapi kami mencoba #lessplastic. Secara masih suka nyemil snack indomaret, jadi paling tidak kami bisa mengurangi kantong plastik.

Berikut beberapa usaha kami saat ini untuk menjadi hijau (bukan hulk ya), diantanya:

  1. Bawa perbekalan standar keluar rumah yaitu, sapu tangan, sedotan stainless, kotak makan + sendok, botol minum, dan kantong kain. Kami bahkan bawa air isi ulang dalam wadah jeriken. Satu jeriken isi 5 liter bisa buat 4 orang selama 2 hari. Oh ya, sapu tangan murah meriah dapat banyak bisa dibeli di ikea.

 

2. Belanja kebutuhan pokok yang minim plastik, seperti membeli minyak dengan kemasan jeriken, mengganti teh celup ke teh tubruk, dan beli kopi dalam kemasan beling. Kami juga mencoba mengganti sabun cair ke sabun batang, tapi anak-anak belum mau. Jadilah cuma bunda yang pakai sabun batang, lumayan lah ya..

Pak suami juga sudah tak  membeli kopi pakai cup lagi, soalnya dia punya tumbler. Tumbler ini beli di miniso dan awet loh panasnya. Kalau mau bawa kopinya dalam tas, pak suami juga punya termos kecil merk eiger.  Sedangkan untuk kebutuhan baterai kami juga beralih ke baterai isi ulang.

 

3. Kami juga mengumpulkan sampah untuk disumbangkan ke badan sedekah sampah. Sejauh ini baru megumpulkan kaleng susu dan kertas.

 

4. Reuse sampah. Sekarang cucian beras dan kulit telor dipakai buat pupuk tanaman. Botol kopi juga dipakai buat pot tanaman dan tempat teh tubruk.

 

5. Menanam. Setelah cukup lama vakum berkebun sayur, alhamdulillah tahun ini mulai menanam lagi. Sekarang mulai panen, horee!

Kalau untuk tanaman hias, yang terbukti awet (alias gak mati-mati) adalah lidah mertua dan sirih gading. Mereka berdua ini kalaupun telat nyiram dan kebanyakan nyiram, tetap mampu bertahan.

Alhamdulillah sampai saat ini semangat tetap terjaga. Untuk mengingatkan diri, aku pribadi banyak follow akun instagram yang berbau lingkungan. Cukup efektif untuk memicu diri.

Yang masih PR di keluarga kami adalah mengolah sampah organik sisa konsumsi. Kemarin sempat mau bikin komposter tapi bingung mau ditaruh dimana (balada rumah imut, hahaha). Lalu muncul opsi baru bikin biopori, tapi belum action juga.

Untuk sampah plastik inginnya dibuat ecobrick, tapi ini juga belum terlaksana. Semoga bulan ini bisa kejadian *wahai malas enyahlah.

Demikian sharing kami dalam usaha menjadi agen hijau bagi bumi. Walau masih jauh dari sempurna, smoga kami tetap semangat bergerak.

Bisa..bisa..bisa!

 

 

 

4

BBW Jakarta 2019

Tanggal 1-11 Maret 2019 kemarin BBW Jakarta kembali digelar. Entah kenapa masih dinamakan BBW Jakarta padahal lokasinya di ICE-BSD Tangerang Banten.

Kami datang kesana lebih dari satu kali, walaupun lokasi BBW ini dari rumah sekitar 2 jam-an (jika apabila ketika lancar 🙂 ). Pertama kami datang tanggal 28 februari yaitu sehari sebelum gelaran karena kami punya preview pass. Saat preview pass ini ramai sekali. Untuk masuk harus mengantri Panjang dan begitu masuk kami sudah tak kebagian trolley (hanya dapat keranjang plastik yang beroda itu). Banyak juga loh yang sampai bela-belain bawa koper besar sendiri #salut.

IMG_20190228_090042

antrian masuk yang mengular dan sampai keluar gedung antriannya.

 

Namun di dalam masih enak pergerakan ketika mencari buku. Karena tak ada trolley besar, 2 bocah juga dipekerjakan untuk menarik keranjang. Lanjutkan nak!

IMG_20190228_104221

Dua anak yang sigap membantu walau belum mandi, hehehe.

Oh ya, karena kami (merasa berpengalaman) akan BBW maka tahun ini kami membuka jasa titip di akun IG kami @gilabacabuku. Banyak juga loh yang nitip. Alhamdulillah.

Hari pertama dilalui dengan perasaan bahagia bertemu banyak buku. Lintang dan Cakrawala juga belanja buku yang mereka pilih sendiri. Aku kasih jatah 3 buku untuk masing-masing anak biar gak over budget, eh tapi mereka milihnya buku yang harga satuannya 100rb lebih juga #anakpintar. Jadilah hari pertama belanja buku pribadi tembus 900rb *lirik dompet suami.

Puas belanja buku, kami menginap di guest house dekat ICE ini. Kami dapat penginapan harga di bawah 300rb dengan kondisi kamar yang lumayan. Guest house ini juga dekat dengan pusat makanan *perut aman.

Hari kedua kami ke BBW sudah tak antri lagi. Anak-anak seru membaca buku yang dilewati dan sesekali mengajukan proposal membeli buku (tapi ditolak, hahaha). Aku mencari buku craft dan suami mencari buku design arsitektur. Tapi tetap sih aku membeli buku anak yang menurutku bagus dan anak-anak tetap berharap buku yang mereka suka masuk kategori bagus versi aku sehingga bisa dibeli. Lintang rajin nyodorin buku sambal bilang, “bunda, menurut bunda ini bagus tidak?” (aku senyum-senyum dalam hati).

Puas ke BBW selama 2 hari. Iya untuk saat itu. Kami pulang dengan banyak belanjaan (barang pelanggan jasa titip + pribadi). Inilah penampakan belanjaan kami pribadi di sesi pertama.

IMG_20190303_065118

Buku sesi pertama didominasi oleh pilihan anak-anak. Cakrawala memilih buku hewan dan Lintang memilih buku tentang superhero. Yang menyenangkan adalah kami dapat buku Dragonology, buku yang mengupas tentang naga dengan ilustrasi yang bagus. Sudah lama kami mencari buku tentang naga, mengingat lintang sangat tertarik untuk tahu tentang naga. Happy!!

Setelah dari BBW sebenarnya tak ada niatan ke sana lagi. Tetapi timeline yang masih dimunculi BBW lama-lama mengusik juga. Apalagi aku iseng ikutan lomba foto BBW, eh menang voucher 150rb. Kan lumayan ya….

Pada tanggal 6 Maret melajulah kami kembali ke BSD. Berangkat jam 6 pagi, kami tetap disapa macet Jakarta. Baru pukul 12 siang kami sampai. Gila ya macetnya. Sesampai disana suasana masih nyaman untuk belanja. Anak-anak dapat jatah belanja dari voucher menang lomba foto. Mereka happy sekali bisa belanja buku lagi. Pilihan buku anak-anak adalah buku stiker dinosaurus. Sungguh, rak buku kami penuh akan buku dinosaurus. Tapi gimana lagi, Sukanya itu 🙂 .

Kami di BBW sampai jam 10 malam. Tentu diselingi makan dan sholat. Di BBW ini tersedia foodcourt dan tempat sholatnya 1 hall sendiri (bisa buat sholat jumat juga).

Begitu mau pulang pak suami ngantuk. Akhirnya istirahat dulu sebentar di parkiran. Lah kok smua ketiduran. Begitu bangun sudah jam 5 pagi *pules. Kami segera menuju ke McD 24 jam untuk gantian sholat subuh. Sudah kadung pagi, ya lanjut dong main ke BBW lagi. Anak-anak masih tidur, jadi aku turun sendirian. Begitu jam 6 pagi mereka bertiga nyusul ke BBW. Jadilah kami 4 manusia yang belum mandi. Untung BBW ini dingin, jadi ya keringatnya termaafkan (semoga).

Selalu seru ke BBW. Kami bisa melihat anak-anak antusias memilih buku di pagi buta. Oh ya, tahun ini BBW ada di bandung juga loh. Smoga kami diberikan rezeki buat main ke BBW bandung. Amin.

 

 

 

2

Nonton Perdana 2019

Inginnya nonton perdana berdua dengan suami, namun anak-anak yang batuk bergantian dalam 2 minggu kemarin membuat kami tak mungkin menitipkan mereka. Jadilah begitu 2 bocah sehat dan ada film untuk Semua Umur (SU), kami ajak mereka nonton.

Awalnya ingin nonton Bernie The Dolphin yang sudah duluan tayang. Namun ketika melihat poster Lego The Movie 2, Lintang mengajukan proposal buat nonton lagi. Hari itu movie marathon deh. Capek ya ternyata nonton 2 film berurutan. Terus Efek film ke kepala dan hati jadinya nyampur-nyampur.

Tentang Film.

Untuk film Bernie the dolphin, ide ceritanya sederhana yaitu 2 Kakak beradik yang suka main di alam dan mengetahui ada pengusaha nakal yang bekerjasama dengan walikota akan membangun pabrik secara ilegal di pinggir pantai. Namun ide cerita itu disajikan dengan seru ala film sana. Lalu melihat bagaimana orangtua berinteraksi dengan anak di film itu juga sangat menarik. Anak mandiri dan orang tua yang menghargai sungguh perpaduan yang mengasyikkan untuk aku yang haus belajar menjadi orangtua.

Kalau bagi anak-anak, tentu bagian menariknya beda. Mereka gemes banget sama tingkah si Bernie (si lumba-lumba imut lucu) dan ikutan seru pas adegan 2 Kakak beradik melakukan aksi-aksi heroik.

Satu lagi yang menarik, ada adegan dimana 2 Kakak beradik (aku lupa nama mereka😁) yang buru-buru dengan naik mobil golf, namun tetap dong tak menerobos lampu merah walau malam dan sepi. Good!.

Untuk Film The Lego Movie 2, ini tentu lanjutan film pertama yang mana aku belum nonton. Tapi tetap bisa kok menikmati film keduanya. Banyak kiasan untuk bisa dimengerti anak-anak menurutku. Namun aksi-aksi di film dan animasinya yang bagus tetap bisa dinikmati.

Kalau kata Cakrawala (4yo) filmnya terlalu lama. Mungkin efek movie marathon juga. Tapi kalau Lintang (7yo) lebih menikmati. Apalagi lintang memang penyuka Lego dan film aksi.

Jadi kalau ditanya mending nonton mana? Tergantung selera.

Yuk nonton😊.

2

Buku Keempat @2019: Si Anak Pintar

Setelah membaca burlian, aku jadi penasaran sama 3 buku lain tentang kisah anak-anak mamak yaitu Eliana, Pukat dan Amelia. Jadilah pas di Jogja (dalam perjalanan balik ke rumah) aku mampir ke Gramedia. Tapi aku kecewa, ternyata di Gramedia Jogja sudah ganti semua bukunya dengan sampul baru. Jadinya gak matching deh dengan buku Burlian punyaku. Mana sekarang itu judul bukunya bukan nama lagi tapi sebutan masing-masing anak.

Burlian yang beda sendiri

Buku Si anak Pintar ini berkisah tentang masa kecil anak-anak mamak melalui kaca mata Pukat. Burlian dapat porsi lumayan juga di buku ini, soalnya si Burlian teman main Pukat. Mereka cuma beda usia 1 tahun.

Di buku ini, aku paling suka kisah mereka membuka hutan untuk ladang. Seru!! Tinggal dekat hutan itu mimpi masa kecil banget.

Ketegasan mamak juga mengispirasi, hehehe….Kayaknya kalau aku hidup di masa itu, aku tipe ibu semacam mamak ini lah😁.

Masih ada 2 buku lagi tentang Eliana dan Amelia plus kisah mamak sendiri di buku si anak cahaya. Tak sabar ingin menuntaskan di bulan ini. Semangat membaca💪💪.