2

Buku Ke-2 : Burlian

Berada di kampung halaman, Aku terbebas dari kewajiban mengurus rumah. Bahkan baju-baju kamipun dibawa ke laundry. Tentulah banyak waktu luang untuk bisa membaca. Selain buku Traveler’s Tale, sebenarnya aku bawa 2 Stok buku. Akan tetapi bukunya tak mengundang untuk dibaca😁. Untunglah di Probolinggo ada toko buku Toga Mas (smoga toko buku ini tetap survive, amin).

Aku beli 3 buku. Ada 2 buku Quraish Shihab yang baru dan 1 buku Tere Liye. Aku baca mana dulu? Bukunya Tere Liye *aduuh. Buku Pak Quraish kurang cocok dibaca ketika liburan *ter-ngeles✌️. Tapi insya Allah nanti dibaca kok Pak (Mohon doanya ya teman-teman😊) karena kecepatan membaca buku non novel itu sungguh perlu diperjuangkan💪.

Aku bukan penggemar novel Tere Liye, gaya ceritanya tak selalu cocok untuk kubaca. Sejauh ini Aku baru nyaman membaca “Tentang Kamu” dan ” Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah”.

Bagaimana dengan Burlian? Alhamdulillah suka. Gaya ceritanya nyaman dibaca, temanya juga aku suka. Bahkan ada beberapa bagian yang membuat aku menangis. Jadi ingin membaca 3 seri yang lain: Pukat, Eliana dan Amelia.

Membaca buku ini membuatku semakin ingin berumah di dekat hutan, yang mana sekarang kami malah berumah dekat pabrik😁.

Oh rumah di dekat hutan, pertemukan kami denganmu. Amin😊😊.

Advertisements
5

Almost 7 Year Old

Melihat Lintang beberapa bulan ini, terasa wajahnya sudah tak bayi lagi, apalagi kalau dibandingkan dengan foto-fotonya dulu. Kamu sudah besar Nak.

Tak hanya perubahan fisik, perkembangan kemandirian Lintang sungguh terasa. Dia juga lebih sabar mengkomunikasikan apa maunya. Sekarang Lintang bilangnya “diskusi” kalau dia lagi berargumen.

Tak salah kalau ada ketetapan sekolah SD itu mulainya di usia 7 tahun, karena secara emosi ternyata usia ini memang sudah matang untuk keluar rumah.

Berikut berapa jepretan bunda selama 3 bulan belakangan ini ketika Lintang berkegiatan *salam mamakgram.

Foto pertama ini waktu nganterin dia latihan karate dan sempet-sempetnya aku minta dia senyum buat difoto. Jadilah senyumnya kelihatan seperti ini😁

Ketika menunggu pesanan di salah satu gerai fast food (tolong jangan cibir sayah😂), dia yang memilih membawa alat sketching mulai menggoreskan pensilnya.

Tak kemana-mana di akhir pekan, danau dalam perumahan ini salah satu tempat pilihan kami berkegiatan , kadang piknik, nature walk atau hunting foto. Pas foto ini kami lagi sketching bersama dan lintang memilih menggambar ikan.

Lintang ini tak suka makan nasi. Daripada stress sendiri mikirin ini, jadinya aku berpositif thinking, mungkin dia mau sekolah ke Perancis. Amin.

Seperti anak lain yang tak bisa diam. Maka istirahat apalagi tidur bukan favoritnya. Karena kami tak memberikan gadget, jadilah dia harus kreatif mengatasi bosan. Foto ini ketika dia ikut acara bermain dengan sains di Rumah Sains Ilma. Karena terbiasa berkarya ini itu, dia begitu antusias ikut acara ini.

Beneran kan dia sudah tak bayi lagi😭😭.

Sehat selalu ya le. Semoga smakin kreatif😘. Amin.

11

Buku Pertama Tahun Ini

Yeaaay akhirnya selesai juga baca buku Travelers’ Tale Belok Kanan: Barcelona!. Terima kasih pada virus flu yang menyerang selama 4 hari ini yang membuat aku menamatkan buku ini karena gak bisa kemana-mana. Tapi kuingin tetap sembuh😉 ini aja nulis sambil batuk-batuk.

Buku ini memiliki 4 tokoh yaitu Francis, Retno, Jusuf dan Farah. Jadi berceritanya melalui sudut pandang keempat orang tsb.

Cerita bermula dari undangan nikah dari Francis kepada ketiga temannya yang membuat semua orang ingin memperjuangkan cintanya lagi. Francis jadi ingat cintanya sama Retno lagi (woiii udah mo nikah mas). Jusuf jadi memberanikan diri menyatakan cinta pada Farah, namun sayangnya dua wanita ini mencintai Francis. Kasian si Jusuf😁.

Cerita sepanjang novel berkisar pada kisah cinta segi entah ini, bagaimana mereka flash back awal cinta itu tumbuh dan perjalanan menuju pernikahan Francis di Barcelona yang bikin (aku) ingin ikutan jalan-jalan.

Lucu ceritanya, tapi tak sampai membuat terbahak bahkan beberapa ada yang garing. Mungkin kalau bacanya dulu jaman kuliah beda kali ya karena semakin tua selera humor juga bertransformasi.

Yang aku heran, kok bisa cinta sejak SMA awet sampai kerja. Apa gak nemu gitu yang layak dicinta selain Francis😁. Atau mungkin Francis ini semacam Rangga yang bisa ditunggu Cinta sampai ratusan purnama. Entahlah… Lagian apa selera Farah dan Retno ini gak ganti ya, biasanya kalau SMA kan sukanya ma yang ganteng, sedangkan kalau udah kerja sukanya sama yang serba ada😁 *ditimpuk pemirsa pakai saldo go-pay.

Tapi apakah buku ini layak dibaca? Layak dong. Kalau tak, biasanya aku berhenti baca di 2 lembar pertama. So, monggo dibaca😊.

Buku ini juga membuat target membacaku pecah telor. Horeeee!! Jadi Aku ikut tantangan baca gitu di komintas baca IG @bbbbookclub. Targetku gak muluk sih, 12 buku dalam setahun. Go…go…go…!

Demi ransum buku tetap terjaga tanpa membeli, aku juga ikutan blid date with a book yaitu sebuah program bertukar buku dari @pustakalanalibrary. Hidup Hemat!! Hiduup!!

Terakhir sebelum berpisah di postingan ini, semoga buku yang kita baca memberikan hal positif ke diri dan menjadi pribadi yang lebih baik. Amin…

Semangat membaca!

Salam Literasi!!

7

Hai 2019

Selamat Tahun Baru 2019…..

Alhamdulillah mendapat rahmat sehat dan bahagia di awal tahun ini.

Ngapain di malam Tahun Baru? Tiduuuur😂.

Jadi, di tanggal 31 Desember 2018 kemarin kami mudik ke kampung halaman Probolinggo, Jawa Timur. Setiap awal/akhir tahun memang biasanya kami mudik. Namun, tahun ini lebih bersemangat karena oh karena banyak tol baru dan gratis pula *pecinta gratisan😉.

Jadilah kami lewat tol terus dari Cikarang ke Probolinggo selama 10 jam. Lancar dan cepat. Padahal biasanya Kami butuh seharian buat sampai Semarang, lalu transit di Semarang selama semalam, berangkat lagi pagi dan baru sampai itu malam hari. Terima kasih pada semua pihak yang merealisasikan tol trans jawa ini😘😘😘.

Masih berasa mimpi ada tol di kampungku😍

Kembali ke tidur, karena Kami sampai sore di kampung dan capek tentunya, jadilah malam tahun baru cuma tidur tadi. Tapi tetap bahagia karena bisa berkumpul dengan keluarga.

Ada resolusi 2019? Resolusi sudah tercetak dari tahun kemarin pas tahun baru hijriah. Akan tetapi, momentum tahun baru tetap memberi semangat.

Gebrakan tahun ini diawali dengan hal yang ekstrim buat junkie sosmed seperti aku. Aku puasa sosmed selama bulan januari. So far, gatel pengen buka IG, Twitter dan FB. Namun Ku tahan dengan syusyah phayaah😀. Trus gak buka hp? Karena masih fase penyesuaian (alasan ini mah😁) tetap dong buka hp.

Emang ngapain pakai Hp-nya? Nonton drakor, hahahaha… Udah ada yang nonton memories of the Alhambra? tonton deh. Seru. Apalagi bisa ngeliat mas Hyun Bin lagi setelah terakhir liat di film Secret Garden sekitar 7 tahun lalu.

Selain drakor di atas, biar lebih produktif Ku ingin alirkan hasrat ketak ketik via blog, semoga ya blog ini rame lagi akan tulisanku. Amin.

Teruuus, detoks satu lagi dengan baca buku juga. Buku yang pertama yang ku baca di tahun 2019 ini Travelers’ Tale. Ini buku lama sebenarnya, namun baru kemarin dibikinin filmnya. Untuk Filmnya udah nonton, trus jadi kepo ma bukunya. Pas main ke rumah teman dia punya buku ini, minjem deh *salam hemat😁. Ternyata cerita di film dan buku agak beda ya…

Salah satu resolusi tambahan di tahun 2019 ini adalah belajar hidup minimalis dan zero waste. Udah dari tahun kemarin follow para influencer di bidang ini, mulai dari IG @dkwardani sampai @zerowasteadventure. Trus nemu juga Chanel YouTube Maurilla Imron, follow juga deh. Moga tercapai keinginan berzero waste di tahun ini.

Semoga tercapai semua cita di tahun ini. Amin.

Kalau kamu, apa??

2

Akhirnya ke Dieng (bagian 2)

Setelah mengalami perjalanan drama di sini, kami tertidur pulas di hotel larasati. Begitu bangun, kami ditawari sarapan 2 piring nasi goreng hangat dan teh manis panas. Semua doyan sampai harus nambah 2 piring lagi. Perut kenyang, kami pun mandi pagi. Mandi kami aman dari dinginnya dieng karena ada pemanas air.

Begitu semua ritual pagi selesai, kami bersiap berkeliling dieng sekalian checkout hotel. Fyi, hotel ini keren loh, pas aku siap-siap masukin barang ke mobil, aku lihat para petugas hotel lagi nyuci karpet dan suami juga ngeliat kamar lagi dibersihin dengan seksama. Aku yang kadang mempertanyakan kebersihan hotel seperti ini, jadi merasa yakin kalau harus balik lagi #kode.

Kami hendak kemana saja? Untuk hal itu, kami tak membuat itenary khusus. Hanya sekedar browsing tempat-tempat menarik di dieng yang cocok dengan kami yang membawa 2 anak ini. Bukit sikunir yang terkenal dengan sunrise yang cantik tentu kami coret dari tujuan karena tak memungkinkan membawa 2 anak mendaki bukit di pagi buta. Yang masuk incaran yaitu telaga warna, kawang sikidang dan candi arjuna. Kalau bias sehari berarti kami cao dari dieng, namun jika sehari masih kurang berarti kami nginap lagi di dieng. Sesimpel itulah rencana perjalanan kami.

 

Kawah Sikidang.

Menimbang cuaca dieng saat itu yang biasa hujan ketika sore, destinasi pertama yang kami datangi adalah kawah sikidang. Parkiran di sini luas dan di sebelah parkiran ada kawasan untuk beli oleh-oleh. Namun karena weekday, sepertinya membuat tak semua toko buka.

IMG_20181023_095421

Masuk ke area parkiran, bau belerang sudah terasa. Kami tak menyiapkan masker. Namun tenang saja, di loket pembelian tiket dan di parkiran juga, sudah ada para penjaja masker.

 

IMG_20181023_101119

di bagian kiri dan berasap itulah si kawah sikidang.

Menuju kawang sikidang kira-kira memakan waktu 10 menit dari parkiran. Di perjalanan banyak kawah-kawah kecil munculnya gas dan air panas yang meski sudah dipagari membuat saya tetap berjalan dengan hati-hati. Di area menuju sikidang ini juga ada beberapa wisata foto khas tempat wisata zaman sekarang. Spot foto itu sepi dan terlihat tak terurus.  Saya merasa kealamian kawah terganggu dengan adanya wisata foto tersebut.

 

IMG_20181023_100632

swafoto di depan kawah.

Begitu sampai kawah, aroma belerang semakin menyengat. Kawahnya tak terlalu besar dan dalam seperti Tangkuban Perahu. Namun karena dekat itulah kami bisa merasakan gelegak kawahnya, laksana panci besar yang sedang menjerang air.

 

IMG_20181023_100507

Antara takjub dan khawatir nyemplung 🙂

Tak lama kami berdiri memandang kawah karena saya dan lintang merasa tak nyaman. Kalau cakrawala malah betah dan masih kepo dengan area-area di sebelah kawah. Ketika kakaknya beranjak turun, saya bahkan masih menemani cakrawala melihat sumber air panas kecil yang biasa dibuat merebus telur. Minat setiap anak beda ya 🙂 .

 

IMG_20181023_100749

buka masker sebentar demi syahnya swafoto 🙂

 

Di perjalanan menuju parkiran kami lewat deretan lapak pedagang. Mereka menjual minuman carica khas dieng, kentang, belerang dan tanaman. Kami tak membeli apa-apa karena memang tak membutuhkannya *mencoba hidup minimalis.

Selesai dengan kawah sikidang kami belum memutuskan mau kemana dulu. Melihat cuaca yang masih cerah, wisata outdoor menjadi lebih menarik. Kemana kami? Tunggu postingan selanjutnya ya….

4

Akhirnya ke Dieng (bagian 1)

Dieng merupakan bucket list tempat yang ingin kami kunjungi di pulau jawa ini. Selalu tergoda untuk mampir ke dieng sepulang dari kampung halaman, namun entah mengapa ujung-ujungnya mampirnya ke jogja lagi #anakgudeg. Maka ketika kami camping ke Majalengka yang cuma 2 hari 1 malam, “kayaknya nanggung nih buat pulang, kita pergi sonoan dikit lah,” begitu kira-kira pembicaraan saya dan suami.

Sepulang dari camping di Majalengka itu, kami menginap semalam di Cirebon. Paginya kami langsung menuju dieng lewat Batang. Rute ini kami lewati hanya berbekal kasih dan percaya kepada mbah google. Namun kasih kami yang tanpa survey itu berbuntut derita. Jadi jalan raya, kami diarahkan untuk melewati itu perumahan penduduk gitu, lalu ada jalan masuk menuju dieng yaang cuma cukup buat 1 mobil, tapi kata google bisa nih dan cuma 1 jam, menarik. Karena gak yakin, kami tanya penduduk sana, katanya bisa dan beliau juga punya mobil. Baik, kami yakin.

Melajulah kami di jalan itu, awalnya jalannya beraspal dengan pinggiran sawah. Okelah ya. Lalu masuk hutan, jalanan masih ok namun sepi, masih seru. Semakin jauh, semakin sepi, aku mulai deg-degan. Jalanan mulai menanjak, kabut mulai tebal, lalu kami melihat rumah penduduk diantara kabut dan jalanan aspalnya hilang berganti jalanan berbatu. OMG, ini beneran bisa dilalui gak ya? Gak ada kelihatan penduduk di sekitar rumahnya, hanya segerombolan anak muda nongkrong di motor di pinggir jalan, Suami pun turun, aku deg-degan parah, gimana kalau orang-orang itu bukan orang baik. Ternyata mereka juga mau ke dieng dan tak tau juga apakah jalanan di depan OK. Aduh, gimana ini? Masak balik, kami rasanya sudah lebuh dari separuh jalan. Di saat galau itulah dari arah berlawanan ada truk melaju, kami pun bertanya dan bisa katanya, alhamdulillah.

IMG_20181022_154407

hutan yang kami lewati, sepi pengendara lewat dan kabut masih tipis.

 

IMG_20181022_153333

rumah penduduk yang terlihat seperti tak berpenghuni

Perjalanan yang menunggu kami di depan sungguh menggetarkan. Jalanan berbatu, lubang-lubang, menanjak dan belok secara ekstrim. Kami melewati jalan itu ketika sore ditemani hujan yang membuat jalanan licin dan di pinggiran jalan penuh kabut pekat (sepertinya jurang di kiri kanan). Pandangan mobil ke arah depan juga sangat terbatas karena kabut. Aku berdoa terus dalam hati, Lintang yang duduk di depan terlihat tak nyaman, untung adik sedang tidur. Ada saat dimana mobil tak bisa bergerak maju, alhmadulillah kami dibantu gerombolan pemuda tadi, meraka mendorong mobil kami. Sungguh malu rasanya berpikiran buruk pada mereka, Allah menegur aku disaat itu juga.

Suami menyetir dalam diam, aku berusaha tak terlihat panik. Jalanan tak kunjung membaik. Setiap bertemu orang, kami selalu menanyakan hal yang sama, “apakah sudah dekat, jalanan oke kah buat dilewati?”. Jawaban mereka membesarkan hati kami bahkan ketika setelahnya kami membaca rambu, “hati-hati rawan longsor” *haaah, “awas gas berbahaya!” *whaaat!.

Diterpa jalanan ekstrim membuat saya merasa maut begitu dekat *langsung ingat dosa-dosa. Alhamdulillah allah beri kami keselamatan. Jalur ekstrim itu berakhir di sebuah PLTG. Setelah PLTG, jalanan membaik dan begitu keluar jalur itu, kami langsung muncul di jalan raya dieng. Dieng ada di depan mata. Hati rasa haru, ucap syukur rasanya bergemuruh di dada.

Hujan masih menerpa ketika kami mulai mencari penginapan. Namun hujan tak memadamkan rasa bahagia sudah sampai di Dieng. Penginapan pertama yang kami datangi yaitu Tani Jiwo Hostel Dieng. Tani jiwo ini sudah kekinian baik secara bangunan maupun pelayanan, ditandai dengan seprainya sudah putih 🙂 . Akan tetapi sayang kamar untuk keluarga sudah habis dan tinggal bunk beds isi 6 dalam 1 kamar (harga 100rb/orang). Karena kami tak merasa nyaman harus berbagi kamar, kami memilih mencari penginapan lain yang ada di sepanjang jalan. Sebagian besar penginapan di sini bentuknya guesthouse gitu, lalu kami menemukan sebuah penginapan yang menamakan dirinya Hotel Larasati. Parkirannya luas, kamar masih dengan seprai bunga-bunga, namun bersih. Harganya pun masih sesuai yaitu 300rb/malam dengan sarapan. Ok, kami cocok.

IMG_20181023_092851

tampak depan ketika pagi hari

Setelah memindahkan barang ke hotel, kami mencari makanan untuk mengisi perut. Lapar yang sedari tadi tak terasa, kini muncul. Mendapat rekomendasi dari petugas hotel, warung yang enak itu ada di depan indomaret. Iya di sini ada Indomaret (sobatnya si alfa tapi gak ada), indomaret satu-satunya sepertinya di Dieng.

Ketika kami sampai, lah kok ternyata banyak warung berjejer. Bingung deh jadinya. Namun karena hidup itu perkara memilih, dipilihlah warung makan klothok. Cuma ada 2 rombongan ketika kami tiba. Kami memesan sate kambing, nasi goreng dan mie ongklok khas dieng. Walau pesanan kami tak banyak, namun makanan lama datang karena rupanya si ibu warung menyiapkan sendiri. Dua bocah bolak-balik demo minta makan. Pas makanan datang, kami makan dengan semangat 45. Kata suami, dia kurang suka mie ongkloknya, sedang sate kambingnya enak menurutku.

IMG_20181022_185144

 

Ketika makan, kami disapa oleh rombongan sebelah, pasangan kakek nenek dan para anaknya. Anak-anak sempat dikira cewek karena rambutnya yang gondrong dan dikira kembar pula 🙂 . Ngobrollah kami dengan mereka. Rupanya rombongan itu juga lewat jalan yang kami lewati tadi. Saling curhatlah kami akan momen menegangkan yang terjadi. Mengalami hal yang sama ternyata membuat orang yang asing terasa dekat ya…

Perut kenyang tentu ngantukpun datang. Dieng yang dingin membuat kamar terasa tempat paling nyaman. Setelah membersihkan diri dengan air hangat, kami langsung istirahat. Oh ya, kalau cari penginapan usahakan ada water heater nya ya, airnya dingin banget soalnya. Aku tidur dalam kantong tidur, sedang anak-anak pakai piyama dan kaos kaki. Dua bocah itu tak suka pakai selimut, tipikal anak zaman now pecinta AC. Kami tidur dengan nyenyak di kamar yang tetap dingin walau tanpa AC itu.

Terima kasih ya Allah atas karunia keselamatan dan kesehatan dari Mu.

 

 

 

 

 

2

Camping di Bumi Perkemahan Cipanten

Setelah camping di Capolaga pada pertengahan September, di bulan oktober kami ikut acara camping Caruban yang diselenggarakan oleh komunitas Bestari. Lokasinya di Majalengka, sekitar 3 jam-an dari rumah kami di Cikarang. Kami lewat tol cipali dengan lancar. Ketika sudah dekat lokasi, jalanan lumayan meliuk dan menanjak namun kondisi jalan bagus.

IMG_20181020_121022

Begitu datang, foto dulu

Buper Cipanten ini kalau di google map juga disebut hutan pinus argalingga karena memang penuh jajaran pohon pinus. Di depan area camping ada beberapa warung buka. Ada fasilitas mushola dan toilet juga. Sepertinya selain untuk camping, banyak juga orang tamasya ke sini, bahkan ada rombongan yang datang untuk mandi di aliran air sebelah tempat camping.

IMG_20181020_165630

dua jagoan anti capek

Di camping caruban anak-anak ikut workshop melukis dan bermain sains yang diselenggarakan oleh panitia. Mereka juga ikut jelajah alam tanpa didampingi orangtua (bapak ibunya lagi capek habis perjalanan #jompo 🙂 ). Selain acara yang diinisiasi panitia, mereka juga asyik mengumpulkan daun pinus yang bentuknya mirip jerami untuk kemudian ditumpuk sampai menjadi gundukan. Kegiatan ini agak ganggu sebenarnya, karena di bawah daun pinus ini tanahnya berdebu (mungkin karena lama tak hujan) jadinya ulah mereka ini bikin debu berterbangan.

IMG_20181020_132523

melukis tas.

 

IMG_20181020_173608

menumpuk daun pinus

Disini juga ada area outbound. Lintang main flying fox sampai dua kali. Sedangkan cakrawala yang awalnya tak mau mencoba flying fox, akhirnya mau mencoba juga tanpa diminta. Dia bilang, “awalnya deg-degan bunda, terus jadinya asyik”.

IMG_20181020_150235

Kompak main.

 

IMG_20181020_145935

bersiap meluncur.

Malam hari juga ada api unggun. Lintang menampilkan kemampuannya bercerita. Dia cerita “Rumah Baru buat Omang”.Dia melakukan ini tanpa latihan sebelumnya, semata-mata karena masih ingat materi ini ketika ikut lomba sebulan sebelumnya. Good job lintang!.

IMG_20181020_193549_HHT

api unggun telah menyala….

Ketika acara api unggun juga ada bapak-bapak yang membantu acara bakar-bakar. Sosis dan ikan yang dibakar, tapi aku udah gak ikutan makan karena kenyang jagung kukus.

Malamnya kami tidur nyenyak, alhamdulillah suhunya nyaman buat tidur. Pagi setelah sarapan, diisi dengan kegiatan game dan bermain outbound lagi. Aku ikut game yang berputar-putar yang bikin aku puyeng dan ingin muntah. Kalau anak-anak  bermain memindahkan karet dengan sedotan. Lintang cakrawala senantiasa semangat dan menang loh. Setelah itu acara selesai, semua orang sitirahat dan lalu berbenah. Ketika itulah panitia mengumumkan pemenang untuk kategori TER..apapun. Lintang alhamdulillah menang kategori peserta TERberani. Hore!!!

IMG_20181021_075611

serius bertanding

 

IMG_20181021_084249

swafoto itu wajib!

 

IMG_20181021_085016

anak ini suka banget main beginian

Dari majalengka ini kami tak langsung pulang. Kami malah menuju Cirebon untuk perjalanan selanjutnya. Kemana? Rahasia, hahaha… Tunggu update selanjutnya ya 🙂 .

Salam Petualang!!