0

Menikmati Asian Games 2018 : Sepak Bola

Sedikit cerita kami menikmati keseruan Asian Games 2018.

——————————————————————————————–

Mendengar Timnas Indonesia masuk 16 besar dan akan melawan Uni Emirat Arab (UEA), tentu kami yang menyukai bola ini ingin sekali nonton. Apalagi tandingnya di stadion Wibawa Mukti yang letaknya dekat rumah, sekitar 15an menit dari rumah. Tetapi tiket yang dijual secara online sudah habis. Lalu, kami mendengar dari pengurus SSB tempat lintang berlatih bola kalau tiket offline itu masih ada pas hari-H dan orang-orang biasanya antri dari pagi. WOW banget ya. Jadilah pagi itu tanggal 24 Agustus 2018 begitu bangun tidur Lintang langsung ngajakin ayahnya ke stadion. Sampai di sana ternyata antrian sudah Panjang mengulaaaar. Pulanglah mereka berdua dengan tangan kosong #sabar. Kami membesarkan hati untuk nonton di TV.

Baru sekitar jam 11:31 ada WA dari Pak Candra.

Screenshot_2018-08-31-08-19-51-614_com.whatsapp

 

Kaget dan deg-degan ketika membacaWA itu. Karena bayanginnya pasti disana ruaamee banget, apakah anak akan bisa nonton dengan nyaman dan aman. Nonton terakhir Timnas Indonesia bertanding secara langsung dulu banget di GBK semasa belum punya anak.

Pertandingan mulai jam 4 sore dan kami berangkat jam 2 dari rumah. Menuju lokasi jalan sudah mulai tersendat dan kesulitan dapat parkir. Orang-orang parkir di pinggiran jalanan sepanjang menuju stadion. Kami dapat parkir agak jauh dari stadion dengan kenyataan anak-anak tidur di mobil. Jadilah Pak Candra menunggui anak-anak dulu tidur sebentar dan aku duluan makan siang. Skenarionya makanan  buat mereka bertiga aku bungkusin dan dimakan sebelum masuk stadion.

Sepanjang jalan dari parkiran menuju stadion, banyak sekali orang jualan kaos dan pernak-perniknya. Melihat orang-orang yang semangat nonton, ku bahagia.

IMG_20180825_171609

Kami siap dukung Indonesia.

Masuk stadion melalui pintu khusus untuk penonton keluarga. Di pintu berderet petugas mengecek, tak boleh bawa makanan dan minuman dari luar. Suasana dalam stadion sudah ramai, kami di arahkan ke gate sesuai kelas tiket. Tetapi banyak gate yang sudah ditutup karena pada penuh. Kami akhirnya masuk gate yang harus mengharuskan naik beberapa tingkat *ngos-ngosan. Ternyata disitu juga penuh. Turunlah lagi kami untuk mencari tempat di gate lain. Setelah 20 menit pertandingan dimulai, barulah kami dapat tempat duduk yang nyaman.

 

IMG_20180824_170057

alhamdulillah bisa nonton dengan nyaman.

Lintang sangat menikmati pertandingan dan Cakrawala juga antusias. Barulah di babak kedua kompak mengeluh lapar 🙂 .

IMG_20180824_162736

Puas nontonnya.

Seru banget menonton secara langsung. Teriakan, nyanyian dan yel-yel tak hentinya bergema. Ku terharu. Apalagi ketika Indonesia menyamakan skor ketika babak ke dua akan berakhir. Kami berempat jingkrak-jingkrak kegirangan. Bahagianya itu priceless banget.

IMG_20180824_184342

Babak tambahan.

Pertandingan lanjut dengan babak tambahan. Deg-degannya lanjut dan memuncak ketika adu pinalti. Tendangan pinalti dua pemain Indonesia gagal dan tendangan terakhir pemain arab masuk, Indonesia kalah, namun walau kalah ku tetap bahagia. Timnas mainnya bagus banget. Super!!

IMG_20180824_185902

Foto ketika pertandingan usai.

 

Asian Games 2018 ini sungguh berkesan sekali. Semangat nasionalisme berkumandang di mana-mana. Anak-anak juga belajar banyak dari Asian Games.

Selamat kepada semua atlet, pelatih dan penyelenggara. Kalian luar biasa.

Jayalah terus Indonesiaku!!.

 

 

Advertisements
3

Menonton Film Anak “Petualangan Menangkap Petir”

Menonton film anak adalah salah satu cara belajar yang kami pilih untuk homeschooling anak-anak. Jadi kalau ada film anak di bioskop, kami usahakan nonton.

Tahu info film ini dari sebuah WAG yang aku ikuti, tepat sehari sebelum tayang. Padahal aku itu sudah follow IG khusus film Indonesia yaitu @filmnasional dan @film_indonesia, namun tidak melihat ada promo postingan film ini di Instagram mereka. Kalau promo TV kami tak tahu, karena memang kami memilih untuk tidak menonton TV di rumah.

Sebelum nonton kami selalu bertanya lebih dulu, apakah anak-anak mau diajak? Karena kadang walau film anak, mereka berdua tak mau nonton. Begitu Lintang Cakrawala ditunjukkan trailer film ini, mereka suka dan tertarik nonton. Jadilah tanggal 30 Agustus kemarin (di hari pertama penayangan) jam 10.50 kami sekeluarga nonton film Petualangan Menangkap Petir. Keadaan bioskop di hari itu cukup sepi. Kadang rame loh walau hari kerja, terutama kalau ada film-film marvel sedang tayang. Enaknya nonton di hari kerja itu, harga tiket bisokopnya setengah hari libur. Cukup mengeluarkan kocek @25rb per orang. Coba popcorn nya juga setengah harga ya, hahahaha..

Oh ya, kami nonton di Cinemaxx karena XXI dan CGV belum ada di Cikarang. Sedikit informasi, tiket bioskop untuk anak diberlakukan untuk usia 3 tahun ke atas.

IMG_20180830_102926

Aturan tiket anak

Kami masuk pertama begitu ada panggilan “Pintu teater 3 sudah dibuka….” dan ternyata hanya kami berempat penontonnya dari film mulai sampai film berakhir. Mungkin karena nontonnya di hari pertama dan jam pertama pemutaran ya. Serasa bioskop pribadi 🙂 .

IMG_20180830_104817_HHT

Kalau saja nonton film horror mungkin akan semakin horor.

Bagaimana filmya? Anak-anak menikmati dan tak menjadi bosan. Ketika ditanya, Cakrawala bahkan menjawab “suka banget”. Kalau aku, suka di bagian depan ketika disuguhi keindahan setting film yaitu Kota Boyolali serta pengenalan tokoh, namun agak bosan di tengah film dan segar kembali di akhir film.

IMG_20180830_104932

Formasi lengkap

Film ini secara garis besar tentang hubungan anak dan orang tua, persahabatan dan tentang meraih cita. Bukan tema yang baru dalam film anak. Ada muatan kearifan daerah boyolali yang ditampilkan. Ada juga kutipan yang menggelitik, yaitu ketika si tokoh utama minta diajarin bikin film, Abimana yang berperan sebagai orang yang diminta jadi guru bilang “Ngapain bikin film, sana kerjain LKS saja”.

Kalau mau baca review lengkap, monggo mampir ke blog review film nya mas Arya yaitu mydirtsheet.com. Aku suka baca blog review film ini buat bahan bacaan sebelum nonton.

Aah….nonton film ini jadi ingin bikin film juga. Paling tidak dimulai dari film pendek. Ada yang tahu kamera OK buat bikin film untuk pemula? Bagi info ya 🙂 .

 

0

Menikmati Asian Games 2018 : Pencak Silat.

Sejak sebelum Asian Games 2018 digelar, kami sekeluarga sudah meniatkan diri untuk menonton. Bahkan kepikiran untuk road trip ke Palembang, demi Asian games (dan pempek 🙂 ). Namun karena jadwal gashuku karate Lintang, kami batalkan keinginan itu.  Karena tak beli tiket dari awal, banyak cabang olahraga yang habis tiket. Ditambah lagi macetnya tol Cikampek-Jakarta yang macetnya belum sembuh plus kebijakan kendaraan ganjil genap, kami tak bebas untuk melaju ke Jakarta. Jadi dipilihlah cabang olahraga Pencak Silat yang bertanding di Padepokan Pencak Silat TMII. Waktu kami tiba disana, kami dapat membeli tiket secara langsung tanpa antri. Mungkin faktor hari pertama pertandingan (Preliminary) juga sih.

IMG_20180823_114903

Begitu tiket ditangan, kami langsung kepintu masuk. Di pintu masuk tas diperiksa dan tak boleh membawa makanan dan minuman dari luar. Aku yang membawa tumbler berisi minuman diminta untuk menghabiskannya. Kirain karena alasan keamanan maka tak boleh bawa makanan minuman, ternyata oh ternyata karena ada jualan para sponsor di dalam. Padahal kubawa tumbler biar bisa #zerowaste.

IMG_20180823_132403

Penampakan para sponsor yang menjual produk.

Begitu masuk, kami disambut oleh tiga mascot Asian Games 2018 yaitu Kaka, Atung dan Bhin-Bhin. Lintang dan Cakrawala yang memang koleksi boneka hewan sudah punya dong 2 maskotnya, beli di Alfamart. Kirain disana juga ada stan penjualan merchandise Asian games, ternyata tak ada. Padahal kami ingin beli boneka Kaka.

IMG_20180823_135543

Menuju vanue pertandingan begitu lancar, karena ada kakak-kakak volunteer yang berjaga sepanjang jalan yang membantu mengarahkan. Bahkan foto diatas itu, mereka loh yang menawarkan untuk memotretkan.

Ketika kami masuk arena, ternyata sudah selesai pertandingan satu atlet pencak silat dari Indonesia. Begitu kami duduk, alhamdulillah ada atlet Pencak Silat Indonesia lagi yang bertanding. Suasana di sana begitu semarak. Teriakan dukungan bergema. Rasanya bahagia sekali berada di tengah para suporter Indonesia. Indonesia..prok..prok..prok..!!!. Indonesia…prok…prok…prok….!!!!.

IMG_20180823_120102

Sebelum istirahat siang, kebagian duduk di deretan depan.

 

IMG_20180823_140224

Setelah istirahat siang, kebagian kursi di deretan atas

 

IMG_20180823_143630

Menonton pertandingan secara langsung, deg-deg banget, berkali-kali dari nonton di TV. Apalagi kalau skornya tipis dengan lawan, teriak di mulut dan berdoa dalam hati. Siang itu kami  menonton 4 laga pertandingan pencak silat. Tiga pertandingan dari atlet pencak silat Indonesia dan ketiganya menang. Hore!!! Pas baca berita, di final 2 Atlet tersebut yaitu Komang Harik Adi Putra dan Abdul Malik menyumbang emas untuk Indonesia, sedangkan Amri Rusdana mengantongi medali perunggu. Alhamdulillah. Eh, si atlet pencak silat  malaysia yang marah karena kalah dari Komang Harik itu, kami juga nonton langsung pertandingannya. Dia memang kelihatan jago sih. Konon juga langganan juara, jadi mungkin lebih susah kali ya buat mengaku kalah (spekulasi mamak-mamak).

Kami pulang sekitar jam 4 sore, tak menunggu semua pertandingan usia hari itu. Anak-anak udah kelihatan letih dan kami juga tak mau terjebak macet panjang di Tol Japek.

Asian Games 2018 ini sungguh momen yang bagus bagi anak-anak untuk lebih mengenal profesi atlet. Menyerap nilai-nilai baik dalam dunia olahraga. Nilai kerja keras, disiplin, pantang menyerah dan menjaga pola makan. Cinta terhadap tanah air juga semakin menyala, Lintang dan Cakrawala bahkan kini punya cita-cita baru sebagai atlet sepak bola. Eh, hari ini juga ada final Pencak Silat. Semoga emas bisa diraih ya..

Salam Olahraga!!.

 

 

 

2

Apa Mimpimu?

Mimpi, sesuatu yang membuatmu tersenyum ketika mengingatnya. Senyummu semakin melebar ketika mencoba merangkai jembatan kearahnya. Konon katanya, mimpi perlu dibagi agar banyak yang mendoakan itu terjadi atau bertemu dengan orang yang memiliki mimpi yang sama dan mimpi itu akan terlampaui.

Salah satu mimpi dalam hidupku adalah mempunyai sebuah perpustkaan, di mana aku bisa berdiri diantara tumpukan buku yang menjulang, melihat orang serius membaca dalam sepi dan aku bahagia melihatnya.

Kini, aku mulai melangkah ke arah mimpi itu, lewat sebuah nama “Tenda Baca Nice”. Masih jauh secara fisik, tapi melihat ada anak yang membaca tetap meninggalkan rasa hangat di hati.

IMG_20180220_170745

Tenda Baca Nice dengan duo Lintang Cakrawala yang setia menemani Bunda bertugas.

 

IMG_20180726_164520

Ayo membaca 🙂

Tenda Baca Nice (TBN), bermula dari keinginan untuk membuat taman baca di dalam cluster perumahan, sebagai alternatif anak-anak mengisi kegiatan sore. Kami memanfaatkan sebuah gazebo terbuka di pinggir taman ditambah sebuah rak buku mungil sumbangan dari @mattoafurniture, maka awal februari kemarin TBN resmi beroperasi. Buku-bukunya sumbangan dari warga cluster, Lintang dan Cakrawala termasuk donatur buku. Melihat mereka berdua ikhlas menyumbangkan buku, merupakan satu poin pembelajaran yang tak ternilai. Bahkan kini kami juga menerima sumbangan buku dari pihak luar yaitu dari penerbit buku anak Rabbith Hole dan Penulis buku seri Eating Clean Ibu Inge @projecteatingclean.

img_20180717_170125.jpg

Buku Sumbangan @rabbitholeid

IMG_20180817_061728

Buku sumbangan dari @projectcleaningeat

 

Untuk menarik minat para pembaca usia dini, kami juga mengisi kegiatan TBN dengan prakarya. Anak-anak TBN semangat sekali untuk bebikinan. Bahkan ada yang cuma datang buat bikin-bikin (*dilarang baper ya buk 🙂 . Semoga semangat membacanya juga tumbuh nantinya.

IMG_20180213_165836

Wajah bahagia setelah berhasil membuat origami katak

 

IMG_20180227_162033

Mewarnai juga asyik 🙂

Untuk taman baca sederhana ini, tantangan tetap ada, ada kalanya ramai anak membaca, ada kalanya sepi. Kami harus berusaha kreatif dalam menarik anak-anak untuk datang. Pengelolanya juga baru dua orang yaitu saya dan Bu Dwi. Bu Dwi akan pergi September besok ke Australia untuk menemani suaminya kuliah di sana. Semoga TBN mendapat penggantinya. Amin.

Sekian dulu cerita tentang TBNnya. Kalau ada yang mau mampir, silakan datang ya 🙂 . Sumbangan buku anak layak baca juga kami terima dengan tangan terbuka.

Salam Literasi.

 

2

Apa Kabar?

Sudah lama sekali sejak postingan terakhir di blog ini ya, hampir 5 bulan. Wow… Ada yang kangen? 🙂 . Padahal awal tahun udah sok setting target posting seminggu 2 kali *haduh. Kalau ingat itu jadi malu sendiri dan kalau dituruti malah bisa setahun nih bolos posting *amit-amit. Semoga abis postingan pertama setelah pingsan ini, aku jadi rajin menulis blog lagi. Amin.

Kalau mau ditelisik penyebabnya, yang sebenarnya pembenaran dari kemalasan, hahaha…tapi biar nggak merasa bersalah amat, kita jadikan dia kambing hitam lah ya. Sejak punya laptop baru hadiah dari suami paling baik hati di dunia (kode biar sepatu Adidas di ACC) aku berniat rajin posting. Apalagi kemudian juga beli MiFi dari salah satu provider seharga 300rb-an. Tapi ternyata MiFi ini boros banget sehingga membuat aku patah hati. Mau nulis lewat Hp lagi ku tak mau, pegel buat ngetiknya.

Untunglah suami yang baik hati (kode lagi) udah pasangin wifi di rumah awal bulan ini. Terima kasih suami. Alhamdulillah dengan paket 100mbps jaringan internet di rumah lancar jaya. Yipppiee!! Bahkan buat nonton drakor pun anti tersendat *upsss 🙂 .

Baru nyoba 1 drama korea lewat VIU sih, yang bikin bergadang dan lalai mengurus anak, hihihihi.. What’s Wrong With Secretary Kim ini bikin ketagihan nonton. Padahal formula cewek miskin + pria kaya sudah sering banget ya di dunia drakor. Tapi aku rekomendasikan drakor ini.

Nulis apa lagi ya? Udah ini dulu. Rencana ke depan mau nonton versi baru Meteor Garden. Idola banget Meteor Garden ini waktu SMA #angkatanJerryYan. Eh, kenapa jadi bahas drakor ini 🙂 .

Sampai jumpa di postingan selanjutnya yang semoga lebih dari sekedar bahas drakor. Tapi bahas drakor juga gak apa-apa kan?.

0

Cerita Kelas Kurikulum Keluarga Kita

Sudah pernah dengar tentang RangkulKeluarga Kita? Najeela Shihab? Diantara ketiga hal tersebut, saya paling familiar ketika mendengar tentang Ibu Najeela Shihab, pertama karena saya ngefans sama Bapak Quraish Shihab, kedua karena kiprah beliau dalam dunia pendidikan anak.

Perkenalan saya dengan rangkul karena membaca postingan teman yang menjadi rangkul (terima kasih sosmed 🙂 ). Tapi hanya sekedar tahu, oh…ada acara seperti ini. Semakin ngeh, waktu ketemu Mbak Tika yang cerita mau ikut kelas fasilitator keluarga kita dan waktu itu akan dibuka juga Kelas Kurikulum Keluarga Kita di Jakarta. Merasa berjodoh mendengar info itu dan testimoni yang  bagus dari Mba Tika, aku menjadi begitu tertarik. Cerita ke suami, di-acc, Brangkat…!!.

IMG-20180312-WA0028

Kelas Kurikulum Keluarga kita dibagi menjadi 3 sesi, Hubungan Reflektif, Disiplin Positif dan Belajar Efektif. Ketiga kelas tersebut saling berhungan dan enaknya diberikan jeda 1 bulan antar kelas, sehingga bisa sekalian trial materi yang didapat. Ikut ketiga kelas ini ibarat merangkai jembatan antara semua ilmu parenting yang selama sini aku pelajari. Yang biasanya dapat awalnya saja atau ujungnya saja, di kelas kurikulum aku merasa menemukan benang merah dan gambaran besar tentang pendidikan keluarga. Terima kasih Bu Ela dan tim 🙂 .

Selain materi yang oke punya, perjalanan PP antara Cikarang – Jakarta memiliki cerita tersendiri. Mengingat tol Jakarta Cikampek yang gila banget macetnya akhir-akhir ini, kami selalu berangkat persis setelah sholat subuh. Anak-anak pun diboyong dalam keadaan tidur. Aku menjadi orang yang pertama datang ke lokasi, hehehe.. Acara mulai jam 09.00 dan aku sudah sampai di jam 07.00.  Terima kasih Ayah, Lintang dan Cakrawala atas segala dukungannya.

Cerita pulangnya pun meninggalkan kesan. Di kelas pertama, pulangnya aku naik KRL. Itu adalah naik KRL pertama aku sendirian dan pertama kali juga pakai grab bike. Naik KRL dari Manggarai ke Cikarang di saat pulang kerja, sungguh WOW suasananya. Aku yang tak nyaman dengan ruangan sempit, merasa mual diantara himpitan para penumpang yang berdiri. Bersyukur tak sampai pingsan. Alhamdulillah.

Pada kelas ke-2, perjalanan pulangnya tak kalah drama. Jadi kelas ke-2 itu adalah hari terakhir kerja sebelum besoknya long weekend. Jalanan macet semacet macetnya di mana-mana. Aku waktu itu nembeng mobil teman yang pulang ke Purwakarta. Kami keluar kelas jam 5.30 sore dan sampai Cikarang jam 11 malam. Terima kasih Sillvy dan Mas Anwar atas tumpangannya.

Pada kelas ke-3, drama belum berakhir. Si Ayah waktu itu memutuskan menjemputku. Ayah menunggu di daerah Tanah abang dan aku naik grab bike menuju ke sana. Aku naik ojek dalam keadaan hujan dengan memakai payung, ditambah dengan macet. Jarak yang sebenarnya dekat harus ditempuh lebih dari 1 jam. Ramai benar Jakarta di jam pulang kerja ya. Merasa banyak bersyukur selama ini bisa tinggal nyaman di rumah tanpa merasakan macet.

Namun, ilmu yang didapat selama 3 hari itu dapat mengobati semua drama perjalanan. Semoga menjadi ilmu yang barokah, amin. Semoga segera bisa berbagi meRangkul para orang tua di kelas-kelas rangkul nanti, Semangat!!

 


Cerita Bonus

Cerita ini adalah cerita Pak candra mengasuh dua bocah ketika bundanya sedang belajar. Lintang dan Cakrawala diajak jalan-jalan selama aku ikut kelas. Kata Ayah, kalau diasuh di rumah kasihan kalau ingat bundanya, secara selalu ditemani bunda setiap hari.

Ketika kelas pertama, mereka ke Ancol. Main pasir di pantai dan mengunjungi Sea World. Heboh banget cerita mereka tentang Sea World ini. Cerita berbagai macam ikan yang selama ini cuma dilihat di buku. Apalagi dapat bonus boneka dari ayah.

IMG_20180131_100209

IMG_20180131_122450_HHT

Terpukau.

IMG_20180131_132056

Menambah koleksi boneka hewan di rumah.

 

Ketika kelas kedua, mereka meluncur ke Bogor. Tujuannya adalah Taman Wisata Matahari. Hujan menyapa kedatangan mereka. Di sana mereka meneropong mercusuar, foto-foto di arena 3D, main di istana boneka dan loncat-loncat di trampoline. Ada kejadian pilu di trampoline ini. Cakrawala keseleo, yang membuat rombongan memutuskan pulang. Keseleo-nya ini sampai 3 harian. Selama itu dia ke mana-mana minta gendong. Syukurlah akhirnya sembuh tanpa harus dipijat dan diobati.

IMG_20180215_114023

Hujan tak surutkan langkahku.

img_20180215_115540_hht.jpg

Posenya tak kompak 🙂

IMG_20180215_121203

Tempat kejadian perkara keseleo.

 

Pada kelas ke-3, mereka bertiga masih lanjut jalan-jalan. Kali ini mengunjungi Kebun Binatang Ragunan.

IMG_20180314_101541

Andai aku setinggi jerapah.

IMG_20180314_103201

Gajah ini hewan kesukaan Cakrawala.

IMG_20180314_103608

Dari Ragunan, mereka lanjut ke Ikea. Gak kurang jauh itu mainnya pak 🙂 . Setelah kenyang di ikea, trio ini menjemput aku di Tanah abang.

IMG-20180314-WA0004

Es krim ikea yang enak dan murah.

Sekali lagi terima kasih ya Lintang, Cakrawala dan Ayah. Semoga kita menjadi keluarga yang saling mencintai dan selalu mendukung dalam kebaikan. Amin.

0

Buku Bulan Maret

Setelah bulan februari berlalu sebagai bulan malas baca buku, sampai pertengahan maret aku masih dilanda kemalasan. Padahal di bulan januari lalu, aku cukup produktif membaca. Dua buku tebal yaitu “Origin” Dan Brown dan “The Silkworm” karya Robert Galbraith berhasil aku lahap di bulan itu.

Syukurlah di bulan maret ada buku penyelamat, si “Aroma Karsa” yang sudah ku tunggu-tunggu. Sebelum muncul versi cetak, buku ini sudah dibuat dalam format digital secara bersambung. Akan tetapi aku memilih tidak berlangganan, aku tak mampu menahan rasa penasaran.

Begitu versi cetak dijual di toko buku, aku langsung minta diantar Pak suami ke Gramedia. Kami menuju Gramedia Karawang, karena di Cikarang belum ada. Pernah ada toko buku di Mall Lippo Cikarang, tapi terakhir kesana toko tsb. sudah digusur dan digantikan toko pernak pernik jepang *aku berduka.

Ketika kami tiba di Gramedia Karawang, suasana lobi sedang ramai #tumben. Ternyata ada Pidi Baiq penulis buku dilan yang fenomenal itu. Sepertinya habis acara Meet and Greet gitu, soalnya lagi pada ngantri foto. Ingin ikut sih, tapi malu, hahaaaaa…

Di lantai dasar juga sedang ada bazaar, banyak buku obral, Yeaay!! Kesempatan buat menambah stok buku bacaan ringan. Salah satu caraku memupus keengganan membaca adalah, memilih membaca buku ringan sebagai awalan.

Dari pencarian antar tumpukan buku, didapatlah 3 buku yaitu Buku Menyulam (obsesi lama yang belum direalisasikan, hehee…), Bukunya Ninit Yunita “Kok, putusin Gue?”, dan buku “12 Best Stories of Sherlock Holmes”.

 

IMG_20180326_061343

Coba tebak berapa harga buku menyulam? Rp10.000 dan dapat CD pula. Wow kan?

 

Di lantai 1 tujuan kami berikutnya. Tempat bersemayam buku Dewi Lestari terbaru. Sempat PO buku ini dulu, tapi kehabisan budget buat beli buku di februari kemarin 🙂 . Beli buku di toko itu tetap menimbulkan efek antusias, sekalian bisanampang di depan deretan buku.

IMG_20180317_124729

Bonus foto bersama 2 Superhero.

 

Jadi 4 buku itulah yang menemani aku di bulan maret ini. Buku menyulam belum praktek sih, tapi udah beli benang dan jarumnya kok 🙂 . Buku nya teh Ninit sudah dilahap dalam 1 hari. Masih heran ngapain Hari selingkuh dari Maya. Bukunya Pak Sherlock baru dibaca 2 judul, sungguh Bahasa terjemahannya gak nyaman dibaca.

Sedangkan buku Aroma karsa, dibaca beberapa hari dan menimbulkan efek menelantarkan suami dan anak, hahaha… aku itu kalau sudah serius baca, suka hilang fokus ke hal lain. Terima kasih ya anak suami yang sabra menunggu aku yang tenggelam dalam cerita Jati Wesi dan Puspa Karsa. Buku Aroma Karsa ini bikin aku iri sama Jati Wesi, bisa-bisanya dia membaui aneka aroma dengan hidung tikusnya. Bagi aku 10% saja dong…Hahaha…

 

Semoga bulan April aku lebih produktif membaca. Semangat literasi!!