Kemping di Kampung Cai Ranca Upas

Seminggu yang lalu, di hari sabtu, dua bocah bangun jam 3 pagi dan gak mau bobok lagi.

Terus ku bilang ke mas candra “lihat matahari terbit aja yuk”, dia jawab ” masih lama banget”.ย  Aku nyeletuk asal “pas lah, kan lihat matahari terbitnya di bandung”. Eh dia jawab, ” oke, yuk kemping ke bandung”. Haaaah……apa2an ini, hobinya kok dadakan, ckckckck….
Okelah….cussss, hihihihi……

Siapin barang yang mau dibawa, ampe ember gayung segala. Macam mo pindah rumah. Sampai di mulut tol padalarang, bunda tersadar, gak nurunin kompor, ayah juga gak, ya ampun…bye bye kompor. Apa kabar kornet, bawang, garam dan mie yang kami bawa ๐Ÿ™‚ .

Jalanan lancar, mungkin karena kami brangkat pagi. Disapa hujan di daerah ciwidei dan gerimis begitu masuk lokasi kemping.

Kampung cai ini terletak di kanan jalan setelah kawah putih. Ada gerbang besar dengan tulisan “kampung cai ranca upas”.

Tiket masuk pengunjung @ Rp.10.000 danย  Rp. 5.000 untuk mobil. Kalau menginap bayar tiket tambahan @ Rp. 10.000 .

Pas masuk, rameeee… Ternyata ada acara gathering anak klub motor. Dadah sunyi sepi sendiri aku benci ๐Ÿ™‚ .

Kami memilih lokasi tenda di daerah bekas outbond, di pinggir danau. Dekat ma parkiran, mushola dan toilet.

Hawa disana duingiiin, bawaannya pengen pipis mulu. Setiap pipis bayar Rp. 2.000, siapin receh yang banyak ya.
Disana juga banyak yang jualan, di pinggiran jalan, depan mushola dan ada deretan warung juga di bagian belakang. Harga semangkok Rp. 10.000, nasi putih seporsi Rp. 5.000. Jadi kalau masih ok dengan makanan warung, cukup bawa duit aja ๐Ÿ™‚ #antiribet.

Kalau kami sih, masak. Alasannya, gabungan antara hemat, bersih dan seru masak sendiri. Oh ya, kami jadinya sewa kompor di warung flamboyan (deretan warung bagian belakang) seharga Rp. 50.000 untuk kompor plus gas nya. Alhamdulillah…..

Anak-anak?
Walaupun diwarnai gerimis dan jalanan becek,,mereka happy banget. Cakrawala meski dingin gak mau pakai jaket, lintang yang sesumbar doyan dingin malah sempat kedinginan banget. Mereka juga pules tidurnya.

Bunda?
Suka banget…..walau berharap lebih sepi tapi tetep suka. Disekitar kami banyak keluarga juga yang kemping.

Ada kejadian yang bikin dag dig dug sekitar jam 3 dini hari. Suara jedur kayak bom terdengar 3x. Deg-degan. Bangunin ayah, sekitaran sih adem ayem.

Eh malah jadinya aku pengen pipis sekaligus mo sholat isya campur kepo suara apaan tadi. Kata pak parkir suara orang kemping yang lagi ospek, dah biasa katanya. Diluar ternyata rame jam segitu, jadi parno sendirian diluar. Apalagi pas ke mushola, gelap dan banyak anak motor yang lagi kemping di sekitar mushola dan mereka gak tidur. Agak ngeri2 sedap. Begitu nyampe mushola, lah….semua area berkarpet dipake buat tidur dan mukena buat selimut. Plis deh mas…..
keluar mushola, jalan cepat2 sambil doa. Alhamdulillah sampai dengan selamat. Gak mau lagi deh kluar sendiri malam2. Kebiasaan kluar sendiri pas ikut acara kemping homeschooling ini.

Selain yang dag dig dug tadi, ada juga yang ngeselin. Lah….kemping apa ini. Nano2 rasanya, hihihihi…

Kami tuh kan kempingnya di samping danau ya…nyari tempat yang datar dan gak deket2 banget ma danau biar aman buat anak2. Lah…setelah tenda berdiri. Ada petugas yang mendirikan tenda gede di depan kami, gak pake permisi. Suami minta dipindah ke samping, secara masih luas. Di jawab ma dia “bulenya minta nya disini, terus kan sama2 bayar. Kalau mau tempat khusus ya sewa. Lah…..bunda jadi esmosis. Datengin mas nya yang nyolot itu. ” iya bu, iya nanti dipindah” dia bilang. Kayaknya dia ngomong ke si bule, dan si bule ok2 aja. Kelar masalah.

Sorean dikit, ada 5 orang bapak dan ibu yang mo dirikan tenda di depan tenda kami. Gak tanggung-tanggung, 3 tenda. Kali ini bunda yang protes, ayah lagi pergi, “bu, maaf kalo tenda nya disana menghalangi pandangan kami”.
Di jawab ma emak2 disana, “lah kok gitu, kan sama-sama bayar” katanya. Ku bilang lagi “di belakang masih luas”. Di jawab ma si bapak ” kalau dibelakang, siang panas”.
Lah….. Situ mau enak tapi bikin orang lain gak enak. Ku bilang lagi “kalau mau lokasi yang enak, datang dari tadi”. Mereka akhirnya pergi setelah lama ngobrol disana. Pas kulihat, mereka memilih di pinggir danau sebelah kanan. Kejadian ini membuat aku berpikir, apa iya kalau mendirikan tenda di depan tenda orang sah2 saja dan ok2 aja walau gak pake permisi. Jangan2 dalam hal ini aku yang egois. Mana lintang nyeletuk ” kok rebutan sih”.

Hidup emang berwana ya…bahkan dalam kemping sehari semalam ๐Ÿ™‚ .

Balik ke cerita manis lagi ah.
Disini juga ada penangkaran rusa loh, bisa ngasih makan wortel ke mereka. Bayar 5rb buat sekantong wortel. Adik gak mau ngasih makan, kalau lintang maunya ngasih makan pake wortel panjang. Blajar ilmu peluang juga dia, peluang digigit, hihihi…

Kami kluar ranca upas jam 10an. Soalnya mo lanjut ke dago dairy farm.

Kapok kemping? Gak tuh, malah nagih.
Semua cerita itu, bagian dari proses blajar kami mengenal dunia :).

Yuk kemping!

image

Pemandangan depan tenda yang jadi rebutan ๐Ÿ™‚

image

Gak di rumah, gak di tenda, ayah lah kokinya, hahaha

image

Ada yang minta dipoto pas bongkar tenda


image

Deretan warung di dekat parkiran belakang

image
image

Advertisements

2 thoughts on “Kemping di Kampung Cai Ranca Upas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s