0

Hai 32

Alhamdulillah, Allah berikan umur panjang. Semoga juga berkah dan barokah. 

Awal mei kemarin di hari kamis, genap sudah aku berumur 32. Pagi yang indah diawali dengan ciuman dan ucapan selamat ulang tahun dari suami tercinta. Tentu dia akan ingat, lawong istri rajin ngingetin  “jangan lupa beli kado ya, aku gak mau kadonya telat, kalo maju gak pa2”. Wkwkwkw….

Lanjut, dapat ucapan ulang tahun dan kado dari adik tercinta, sebuah tas ransel kecil. Setelah itu Si Bapak juga ngambil kado. Sepertinya dia beli kado itu sore hari di H-1 *soalnya ijin pergi dengan alibi agak mencurigakan 🙂 .

Taraaaaa, kadonya tas juga. Dua orang itu gak janjian padahal. Apakah ini pertanda aku akan sering jalan-jalan #ngarep.

Makasih ya Pak Suami dan adik ku, muaaah muaaaah.

Kejutan belum selesai. Pak suami meminta packing untuk sebuah perjalanan (yang entah kenapa bisa aku tebak dari hari sebelumnya). Tapi tetep kaget kok suami, kaget kok ya betul tebakanku, hihihihi.

Kami ke Bandung dan menginap di sebuah hotel di daerah Dago. Agenda diisi dengan muterin bandung sampai lembang. Menikmati makanan dan tempat-tempat favorit serta mencoba tempat baru. Cekidot!!

Warung Bu Imas.
Kami itu pecinta masakan tradisional, lebih cinta lagi kalo ada nasi didalamnya *indonesia bingitzz.  Yang lagi hangat di lidah kami adalah warung makan Ibu Imas (padahal 4 hari sebelumnya udah kesana). Warung Ibu Imas ini ada 4 di sepanjang jalan Balonggede, kami singgah di depan warung yang tersisa tempat buat parkir. 

Dipilih….dipilih…dipilih…

Menunya masakan sunda dengan aneka lauk dan lalapan (yang aku makan cuma timun, yang lain entah daun apaan *piss, bukan lidah sunda). Kalau lauk yang kami gemari, paru goreng, babat goreng dan dadar jagung. Makan disana dijamin bakalan keringetan, karena semua disajikan dalam keadaan anget, nyuummy.  
Kami 2 kali kesana, di hari pertama dan kedua #setia. Untuk harga, ramah di kantong. Kami makan berempat, habisnya sekitar 150rb-an.

Kafe Matahari.

Kami sebenarnya tidak berencana kesini, tapi emang bener ya kalo jodoh gak akan kemana. Berawal dari sore itu lihat postingan teman yang bilang kalo kafe ini ramah lingkungan dan self service ditambah foto-foto disana yang cantik, kepo lah saya. Langsung cus kesana. 

Ternyata cafe ini salah satu unit bisnis Eco Camp. Kami sampai di saat cafe menjelang tutup dan masih gerimis pula. Jadilah kami satu-satunya tamu disana. 

Cafenya penuh aneka bunga, baik di pot maupun digantung. Ada pula foto spanduk Bil Gates yang katanya punya hobi nyuci piring *hobi yang produktif pak 🙂 .Ada lapak yang menjual aneka makanan organik seperti beras, madu dan selai. Aku juga beli benih bunga matahari disini. 

Ini tempat makan lesehan di lantai 2

Menunya variatif loh. Kami memilih nyemil tempe mendoan, teh, kopi dan es krim buat anak-anak. Tempenya enak loh, pada doyan. Harganya juga oke. 

Hayo siapa yang suka cuci piring juga?

Makan disana diakhiri dengan bunda nyuci piring sendiri, horeee!.

Tobucil and klabs.

Hari kedua kami keluar hotel siang karena anak-anak memilih renang dulu di hotel. Terus jadinya bingung mau kemana, mau pulang masih siang. Aku iseng liat notes di Hp, kadang aku suka nulis tempat yang ingin dikunjungi di suatu kota kalo pas baca postingan orang. Ada Tobucil and klab disitu yang belum pernah didatangi, mencoba mengingat-ingat tempat apaan itu :). 

Tapi sebelum ke tobucil, mampir dulu ke Bandung Makuta, itu loh oleh-oleh kekinian punya artis Laudya Cintya Bella. Aku bukan fans nya, pengen beli buat oleh-oleh adikku. Ternyata tokonya tutup (mungkin istirahat). Katanya buat beli itu kue harus ambil no antrian dari jam 5 pagi (kalah deh antrian ke dokter kandungan). Makasih ya teh Bella, saya gak mampu :). Di depan tokonya ada beberapa mobil yang jualan bandung makuta dengan harga jauh diatas harga di tokonya. OMG, sampai segitunya.

Balik ke Tobucil and klab, pas nyampe disana dua bocah kebelet pup. Jadinya langsung ijin ke toilet. Untunglah toilet nya bersih dan gede, karena memang tobucil ini memanfaatkan bangunan rumah. Agak malu pas keluar toilet, lamaaa bok nungguin dua bocah gantian pup. 

Uda lega ya le 🙂

Kesini berharapnya dapat buku anak klasik, tapi ternyata koleksi bukunya tidak banyak, lebih ke buku seni dan crafting. Terus masak gak beli apa-apa?  Apalagi setelah pake toilet selama itu, hihihi. 

Ada aneka benang disini, tapi aku lagi gak minat memintal benang. Jadinya anak-anak beli buku stiker (terbitan lokal gitu) dan manik-manik huruf (lintang pengen bikin gelang). Sedang bunda beli tali dan jepitan buat gantungin foto. Just it. Makasih ya tobucil, muaaah.

Selasar Sunaryo Art Space

Karena Pak Candra dan Bu Wulan adalah dua orang lulusan teknik yang jarang terpapar seni, ada keinginan untuk mengenalkan seni kepada Lintang Cakrawala sejak dini. Biar eksplorasi mereka lebih luas. Jadilah mereka kadang diajak ke museum, pameran, dan pentas pertunjukan. Selasar sunaryo ini menarik minat kami.

Sampai disana Lintang enggan turun, mungkin karena tempatnya sepi pas hari kerja. Dibujuklah dia. Pas sampai pintu masuk, dia melihat kain hitam yang bentuknya kayak pocongan, langsung nangis minta keluar. Si adik yang gak nangis aku ajak masuk, eh dia juga gak nyaman dan minta keluar. Gagal deh menikmati galeri nya. Next time ya Pak Sunaryo. 

Kakak udah ke mobil duluan, aku jadi model dulu ah..


Rumah Bunga Rizal

Setelah gagal menikmati selasar sunaryo, suami bertanya pada istri, “pengen kemana lagi?”. Istri memilih ke Lembang, hehehe….tepatnya ke Rumah Bunga Rizal. Menemui para kaktus dan sekulen. Walau angka keberhasilan memelihara 2 spesies ini di angka 40% tapi aku tetap cinta.

Menggoda bukan?

Tak lupa setelahnya beli oleh-oleh buat para tetangga tercinta di Tahu Susu Lembang.

Pulangnya lewat padalarang karena jalur bandung macet menurut mbah google. Seru juga mencoba jalur yang belum pernah kami lewati ini.

Happyyyy……Makasih ya pak suami #muaaah.

Kepada diriku, semoga semakin solehah ya. amin.

Jadi aku udah 32?