0

Cerita Mudik Lebaran 2017 : ke Air Terjun Madakaripura

Lanjut ya cerita mudik lebarannya, kayaknya ini sesi terakhir :).

Cerita kali ini masih berhubungan dengan air. Pernah dengar air terjun Madakaripura? Lokasinya di Kab. Probolinggo. Konon air terjun ini tempat Mahapatih Gajahmada bersemedi. Keren ya orang jaman dulu.

Sebenarnya udah lama pengen ke air terjun ini, tapi nunggu 2 bocah gedean biar gak banyak gendong. Soalnya jalur kesana harus ditempuh dengan berjalan kaki di jalan setapak yang panjang.

Sebenarnya dulu sempat kesana pas lagi hamil lintang, tapi cuma sampai bagian depan. Aku agak ngeri mo jalan kaki ke air terjunnya, khawatir terpeleset.

Setelah 6 tahun berlalu, kini disana disediakan area khusus parkiran mobil. Dulu mobil itu bisa masuk sampai dekat patung gajah mada (setelah loket tiket masuk saat ini), lah kemarin itu parkiran mobilnya jauh sebelum loket. Untuk menuju loket, ada jasa ojek oleh penduduk setempat. Agak lupa harganya, kayaknya 15rb untuk membawa 2 orang.

Tapi kami gak naik ojek dan memilih jalan kaki. Karena kami kira dekat (gak percaya perkataan tukang ojek yang bilang kalau jauh 🙂 ), biar bisa seru-seruan jalan kaki bareng dan bentuk protes knapa juga parkirannya harus dibuat jauh.

Ternyata jalannya memang jauh, hihihi… Tapi gengsi dong mau naik ojek. Padahal masih ada yang nawarin pas kami jalan kaki. Karena gak tega para bocah jalan jauh, akhirnya mereka ditemani bapaknya naik ojek pas udah setengah jalan (harga ojeknya juga separuh harga).

Setelah diamati, jalanan menuju loket memang tak besar, dan rentan longsor. Lalu, sisi kanan jalan itu jurang dan sisi kirinya tanah tinggi dengan banyak pohon. Setelah tahu itu, mulai agak ikhlas kenapa parkirannya harus jauh.

Begitu dekat pintu loket, kami disambut dengan parkiran motor yang lagi rame (iya, kalo motor bebas masuk sampai dekat loket). Mungkin rame karena libur lebaran. Trus di sisi kiri dan kanan jalan, terdapat berderet warung. Meriah. Kami mampir di warung untuk mengisi perut, lapar euy habis jalan jauh. Menu di warung ada gorengan, indomie serta teh kopi. Enak loh gorengannya. Bisa dicocol pake petis pula.

Setelah perut kenyang kami lanjut menuju air terjun. Tiket masuknya Rp. 11.000 / orang. Ternyata kawasan ini dibawah Perhutani.

Patung gajah mada, sebelum jalan setapak.

Lintang dan Cakrawala semangat jalan. Sesekali minta gendong. Jalannya gak licin cuma kadang ada tumpahan air dari pipa air yang bocor di sisi jalan. Pemandangan sepanjang jalan cantik. Di sisi kanan jalan tebingnya tinggi membuat serasa akan memasuki dunia antah berantah.

Puas berjalan kaki, kami akhirnya sampai. Ketika melihat air terjun di hadapan, kami terpukau. Air terjunnya besar dan menimbulkan efek seperti hujan. Bagian bawah air terjun mengalir sungai kecil dan banyak batu besar.

Disalah satu batu besar inilah lintang terjatuh waktu digendong eyang akung yang terpeleset ketika melangkah. Nangis keras dia, mungkin gabungan antara kaget dan sakit. Walau kemudian digendong ayah, dia tetap nangis. Akhirnya dibawa menjauh dari air terjun.

Kalau Cakrawala, dia betah bersama bunda. Walaupun dingin dia tetap bertahan di bawah air terjun sampai kemudian dibawa tante untuk menyusul Lintang. Lintang ternyata udah ganti baju gak mau lagi ke air terjun dan ayah menemani.

Air terjun madakaripura ini ternyata panjang. Aku menyusuri sampai ujung air terjun, bahkan naik tebing segala dan melihat air terjun dimana konon katanya Gajah Mada bertapa dibalik air terjun itu. Entah krnapa pas disana suasana terasa beda, seperti asing. Untung rame, kalau sepi kayaknya aku gak berani, hihihi..

Di balik air terjun diatas, konon tempat semedi gajah mada

Oh ya kalau kesini jangan lupa bawa baju ganti ya….kalau tak kuat dingin bisa juga bawa jas hujan. Disini sudah tersedia tempat ganti baju dan mandi. Yang lucu lagi ada jasa membungkus hp pake plastik, biar bisa tetap foto-foto walau tersiram hujannya air terjun. Di area air terjun ini tidak ada penjual makan dan minuman, jadi silakan bawa bekal atau isi perut di deretan warung sebelum loket tadi.

Balik ke jas hujan, tolong ya para pengunjung tercintah jas hujannya dibawa pulang, jangan ditinggal di area air terjun. Sayang banget kalo tempat secantik ini harus dipenuhi sampah. Karena aku lihat ada beberapa jas hujan plastik sekali pakai yang dibuang begitu saja *sad.

Aku balik jalan kaki sendirian karena Lintang Cakrawala sudah jalan duluan ma ayahnya. Kata ayahnya Lintang sudah kembali ceria. Mereka nungguin di warung tadi, pantesan ceria banget, hihi…makan gorengan lagi toh #doyan.

Setelah semua berkumpul di warung dan kenyang makan gorengan. Kami balik ke parkiran dan akhirnya memilih naik ojek semua. Capek euy, hihihi…

Selalu senang berkumpul bersama keluarga. Buat kamu, iya kamu..kalau ke Probolinggo jangan ragu buat mampir kesini ya. Dijamin suka.

Advertisements
0

Cerita Mudik lebaran 2017 : Snorkeling di Gili Ketapang

Balik lagi ke cerita lebaran kemarin ya. Hihihihi bersambungnya lama, soalnya yang nulis sibuk #sibukMaSosmed 🙂 .

Mudik lebaran tahun ini itu memang niatnya eksplorasi Probolinggo. Salah satunya yaitu Pulau Gili Ketapang. Pulau ini belum pernah kudatangi :). Dulu setauku pulau gili ketapang pulau nelayan, yang terbayang panaas sehingga tak tertarik lah aku. Sampai dapat cerita dari adik bungsuku kalau ada wisata snorkeling disana. WHAT!! Yang bener lu ndro *warkop style :).

Eh lihat di instagram @giliketapang sepertinya menarik. Layak dicoba. Ini tampilan IGnya.

Setelah chat via WhatsApp, kami booking paket snorkeling buat kami sekeluarga. Paket meliputi naik perahu pulang pergi, snorkeling + sewa peralatannya, foto underwater, dan makan siang.

Oh ya, untuk ke gili ketapang nyebrangnya dari pelabuhan lama ya. Disana sudah disediakan parkiran. Kami datang pagi banget biar puas nikmati trip ini, tapi ternyata naik perahunya tetap nunggu penuh dengan rombongan lain :).

Waktu di perahu duo bocah menikmati, apalagi perahunya terbuka jadi angin sepoi-sepoi bebas membelai wajah. Mereka memilih duduk di haluan perahu.

Destinasi pertama ke Goa Kucing. Goa kucing ini setahuku adalah destinasi wisata sedari dulu di Pulau Gili Ketapang. Sering dengar tetangga cerita kalau ke gili mampir ke goa kucing. Ketika kesana jadi tahu ternyata goa yang dimaksud kayak sumur gitu dan sudah berada dalam sebuah bangunan. Ada bapak tua penjaga goa ini dan kalau kesini tertulis “pakai baju sopan”.

Dari goa kucing kami menuju pantai yang menjadi tempat peristirahatan para pengunjung. Rame ternyata, gak hanya orang probolinggo yang datang tapi juga dari kota-kota tetangga. Kami duduk sejenak disana. Lalu berganti pakaian, memilih peralatan snorkeling dan mengambil jaket pelampung yang pas. Lintang dan Cakrawala juga ikutan pakai jaket pelampung, tapi sayang gak tersedia peralatan snorkeling buat anak seumuran mereka.

Begitu sampai lokasi snorkeling pertama, anak-anak pengen nyobain nyebur. Tapi maunya sama ayah (bunda sepertinya diragukan kapabilitasnya 🙂 ). Lintang tampak lebih tegang daripada adiknya. Mungkin dia parno kali ya melihat hamparan air laut yang luas, beda dengan di kolam renang :).

Di lokasi snorkeling pertama ini aku masih bisa foto underwater. Ternyata cara fotonya dengan didorong ke dalam air oleh pemandu. Agak deg-degan tapi ternyata seru juga pas di dalam air. Sayang fotoku gak layak tayang karena jilbabnya tak terpasang sempurna dalam air #sad. Kusuguhin foto Pak Candra aja ya :).

Di lokasi snorkeling kedua, aku udah gak ikutan. Cakrawala kedinginan jadi aku pangku sambil diselimutin. Eh dia tidur. Pules loh, hihihi….

Bagaimana pemandangan bawah lautnya? Ikan cukup beragam sedang terumbu karangnya tidak terlalu berwarna. Akan tetapi pengalaman snorkeling-nya tetap seru. Melihat ikan mondar-mandir itu membahagiakan.

Kembali ke tempat peristirahatan, perut sudah keroncongan. Tapi memilih mandi dulu. Kamar mandinya bersih dan banyak tersedia. Kalo antrian panjang, lekas pindah ke area kamar mandi lain ya. Soalnya aku juga awalnya antri, eh di kamar mandi yang di sisi lain kosong :).

Udah mandi :).

Oh ya, penduduk setempat yang berprofesi memandu snorkeling ini ternyata banyak. Jadi semacam ikut rombongan si A, si B atau si C gitu. Aku tahunya pas ngobrol ma bapak penjaga mushola. Kegiatan snorkeling ini sendiri katanya udah setahunan ini. Lompatan yang bagus buat peningkatan pemasukan warga setempat. Semoga juga dibarengi dengan pelestarian lingkungannya terutama penanganan sampah. Soalnya sering banget lihat tempat wisata yang sampahnya berserakan #miris. Lah kemarin itu disana masih relatif bersih #lanjutkan.

Balik ke perut keroncongan, di trip ini disediakan makan siang. Menunya nasi putih, sambal dan ikan laut bakar. Ikan lautnya dibakar tanpa bumbu. Tetap enak sih walau sederhana karena faktor lapar juga, hehehe…..

Selesai mengisi perut kami istirahat sebentar sambil menunggu antrian minta foto underwater. Antri karena fotonya ditransfer langsung ke handphone. Walau disana udaranya cukup panas, untungnya kami bisa berteduh di ranjang bambu di bawah pohon.

Beres bayar paket snorkeling (pasca bayar 🙂 ) dan dapat foto, kami pun beranjak pulang. Kami pulang sekitar jam 3 sore. Angin laut masih setia bertiup sepoi-sepoi.

Hari itu menyenangkan buat kami. Bisa berkumpul bersama keluarga sungguh kenikmatan tiada tara.

Semoga kami bisa kembali lagi ke gili ketapang. Semoga juga sudah bisa membawa perlengkapan snorkeling sendiri #kode 🙂 .

3

Oase Festival di Museum Bank Mandiri

Banyaknya event di Jakarta membuat kami selalu tertarik merapat kesana. Tapi, kemacetan menuju Jakarta dari tol cikampek akhir-akhir ini sungguh membuat kami teramat malas mendekati Jakarta. Syukurlah acara klub Oase yang bertempat di Museum Bank Mandiri diselenggarakan pada hari Sabtu, yang mana jalanan menuju Jakarta di akhir pekan relatif lancar.

Kami tahu klub Oase sekitar 3 tahunan lalu, semenjak kami tertarik akan homeschooling. Klub Oase ini adalah salah satu klub para homeschooler di Jakarta (bisa dilihat lebih lanjut di http://www.kluboase.com)

Sabtu kemarin itu mereka mengadakan Oase festival (Ofest). Terdapat beberapa kegiatan dalam ofest ini yang dibagi dalam dua ruangan yaitu aula besar dan aula kecil.

Kami masuk aula besar ketika sedang dikumandangkan lagu indonesia raya. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan presentasi para anak homeschooling (hs) yang melakukan perjalanan tanpa didampingi orang tua. Mereka melakukan eksplorasi tentang asal usul makanan. Ada 2 kelompok ekslorasi berdasar usia anak, kelompok 1 melakukan perjalanan ke Bandung dan Kelompok 2 melakukan perjalanan ke Yogyakarta. Terlihat sekali para anak hs ini sangat antusias. Mereka menceritakan perjalanannya satu-satu dengan sudut pandang berbeda. Seru!!

Selesai presentasi, di aula besar itu kami juga disuguhi pertunjukan drama yang lucu dan kreatif dari para anak hs. Lintang dan Cakrawala yang gelisah sedari tadi, jadi bersemangat. Kostum-kostum dari kardusnya terlihat cantik :). Pesan untuk menjaga bumi terutama laut sangat mengena.

Satu lagi yang keren dari festival ini, kami diedukasi untuk ber-zero waste. Kami diminta membawa botol minum dan wadah makanan sendiri. Disana disediakan air isi ulang, mengambil snack untuk dimasukkan ke wadah makan masing-masing dan makan siangnya dibungkus daun pisang.

Paralel dengan acara di aula besar, di aula kecil disediakan meja-meja untuk bermain boardgame. Ramai para bocah disini. Sayang pada saat kami kesana, sedang tidak ada yang bermain boardgame untuk seumuran Lintang. Tapi kami jadi tahu @arcanumhobbies -yang memandu permainan- sebuah komunitas boadgame yang juga menjual aneka boardgame. Ada juga pembuat boardgame, Hamzah Alarabi namanya. Dia bikin boardgame secara mandiri dan ada boardgame untuk anak seusia Lintang yang bakal rilis oktober ini. Cant wait!

Foto serunya main boardgame diatas dari instagram @arcanumhobbies.

Oh ya, acara ini salah satu project para anak oase untuk menggalang dana buat next eksplorasi mereka. Keren ya. Selamat berjuang!!

Menikmati Museum Bank Mandiri

Acara ofest ini diselenggarakan di aula yang terletak di bagian belakang museum mandiri. Jadi ketika kami pulang, kami melewati ruangan yang berisi koleksi-koleksi museum. Kamipun tak melewatkan kesempatan ini dengan menengok sejenak.

Koleksi museum tersusun rapi dan ruangannya bersih, serta jauh dari kesan angker :). Kami banyak melihat benda-benda bank masa dulu. Ada mesin ATM, mesin ketik, buku pembukuan yang BESAR, stempel, timbangan dll. Lintang Cakrawala bisa berlarian disini tanpa khawatir tersenggol koleksi museum.

Selain koleksinya, ada dua hal menarik lain yang aku jumpai di Museum ini. Pertama, seorang bapak penjual souvenir dan minuman yang ramah yang menjual minuman dengan harga wajar. Kedua, seorang tukang parkir yang baik dan ramah. Senang sekali berkesempatan bertemu para orang baik.

Benar adanya bila dikata bahwa perjalanan itu mengKAYAkan hati.

Jadi…jadi..buka pintu rumahmu dan keluarlah!!

2

Cerita Mudik lebaran 2017 : Ke Surabaya mampir Madura

Sudah lama kami tidak ke Kota Surabaya, lewat sih pas mudik tapi lewat tol nya aja. Kami kepo akan berita tentang Surabaya yang kaya akan taman kotanya. Iya, kami pecinta ruang terbuka hijau. Selain itu kami juga mau makan Bebek Sinjai *gak jauh-jauh dari makanan #salamGembul 🙂 .

Awalnya mau makan Bebek Sinjai di Surabaya namun kekepoan membawa kami mendatangi warung prionernya. Mencari jawaban mengapa oh mengapa si Bebek Sinjai ini demikian Famous.

Mengunjungi bebek sinjai, kami dapat bonus melewati Jembatan Suramadu nan panjang. Sebuah pengetahuan baru buat lintang dan Cakrawala. Letak bebek sinjai pun tidak terlalu jauh dari keluar jembatan, sekitar 20 menit. Satu yang menarik juga, sebelum warung bebek sinjai ini, banyak loh warung bebek lain yang lebih bagus tempatnya. Tapi kenapa si bebek sinjai yang lebih terkenal #misteri.

Tiba di Bebek Sinjai pada jam makan siang, sudah banyak mobil berderet di depan warungnya. Di dalam warung, wow antrian panjang mengular. Ada antrian khusus untuk makan, minum dan bungkus. Bahkan untuk dapat tempat dudukpun, kami antri di sebelah orang lagi makan *penuh perjuangan. Rasa? Buat aku enak. Lintang yang biasanya gak doyan bebek aja, habis. Apa ya? Rasanya itu sederhana tapi enak. Sambelnya juga seger. Pengen balik lagi. Tapi makan yang di cabang Surabaya aja kali ya, hahahahaa *trauma antri luama. Tapi kayaknya sih antri lama itu juga efek lebaran, mungkin karena banyak pemudik kepo kayak kami :).

Selesai mengisi perut kami mampir di toko batik yang terdapat di sepanjang jalan menuju jembatan suramadu. Batik tulis madura warna merah menjadi pilihan kami. Murah loh @50rb/helai. Satu helai kain bisa buat 1 kemeja dewasa. Ada juga yang harganya lebih mahal, yang motifnya lebih rumit. Ini nih fotonya setelah dijahit *efek terlambat posting, beli kain pun sampai udah kejahit, hihihi.

Sampai Surabaya menjelang sore, tujuan selanjutnya Taman Mundu, taman terdekat yang bisa dicapai. Duo bocah main mobil-mobilan, menikmati air mancur dan bermain jungkat-jungkit. Tamannya tak terlalu besar namun cukup untuk duduk santai sembari bengong :).

Sebagai anggota Klub Pecinta Senja, menikmati senja buat kami selalu menyenangkan. Maka pergilah kami di penghujung hari itu ke Surabaya North Quay. Tempat ini sebenarnya terminal pemberangkatan penumpang kapal, namun di lantai atas disediakan food court, live music dan tempat untuk memandang laut lepas.

Sehabis magrib, kami lanjut memutari tengah kota, menuju tempat makan malam. Terasa sekali kotanya bersih, rapi dan hijau, padahal kami berkeliling di malam hari. Kantor walikota juga terlihat rimbun akan pepohonan. Ada pula sungai yang terlihat bersih dan bergelantungan lampion di atasnya, indah. Sayang kami belum explore banyak karena udah pada kecapekan.

Tempat makan yang kami tuju tutup karena libur lebaran. Sempat kebingungan mencari pengganti, kami akhirnya berlabuh ke Lontong Balap Pak Gendut. Lontong Balap adalah salah satu makanan khas Surabaya. Rasanya enak loh.

Surabaya, nantikan kedatangan kami kembali ya. Wahai para kuliner maknyus, walau belum bersua kau sudah tersimpan dalam google map kami. Terima kasih Surabaya. Kau layak dicinta.

2

Cerita Mudik Lebaran 2017 : Ke Gunung Bromo

Aku lahir di Probolinggo, tapi mungkin karena dekat jadinya ke Bromo baru 2 kali. Pertama waktu kelas 1 SMA sama teman-teman sekelas, kedua waktu hamil lintang.

Ke Bromo kali ini atas permintaan Lintang, dia pernah lihat tayangan tentang Gunung Bromo dan sesumbarlah si emak ini kalo itu dekat rumah eyang. Jadilah Bromo menjadi satu destinasi liburan lebaran kami.

Kami ke Bromo dari siang sampai sore. Untuk mencapai kawah kami sewa mobil sampai dekat kawah dan lanjut jalan kaki. Ada pilihan naik kuda sih tapi waktu itu kami sok kuat, hihihi. Lintang sama sekali gak minta gendong. Dia berlarian bersama eyang akung dan berada paling depan. Padahal jaraknya jauh dan dapat bonus jalan menanjak pula.

Kalau Cakrawala bareng bunda, yang mana si bunda ngos-ngosan saat jalan menanjak. Untunglah Cakrawala kuat jalan, gak mau digendong loh dia. Aku malah yang gak tega liat dia jalan. Pas di tangga, aku tawarin dia gendong dan mau. Aaah…kaki rasanya gemetar pas naik tangga, akhirnya diambil alih Pak Candra gendongnya. Itu aja setiap berapa tangga, aku berhenti untuk ambil napas.

Begitu sampai kawah, disapa dengan suara gemuruhnya. Lintang minta turun, padahal emaknya pengen selojor dulu. Tapi emang ngeri sih ngeliat kawahnya, ngeri jatuh, hihihi. Ada pagarnya tapi pagarnya itu gak rapat.

Di pinggir kawah bentar doang, lanjut turun tangga lagi. Untungnya kalau turun gak secapek naik walau ada Cakrawala nangkring di belakang.

Begitu selesai menuruni tangga, langsing ke parkiran kuda. Gak kuat aku kalo jalan kaki lagi. Naik kuda berdua dengan Cakrawala bayarnya 50rb. Ternyata naik kuda di jalan berpasir dan menurun cukup bikin deg-degan. Dingin pula waktu itu karena udah menjelang petang. Kayaknya kalo kesana sore kudu bawa jaket deh. Kalau Cakrawala pake jaket tipis sih tapi celananya pendek. Kayaknya dia kedinginan juga, mana diam lagi sepanjang jalan #worry. Begitu kuda sampai di parkiran mobil sewaan, lega.

Lintang dan Cakrawala suka sekali ke Gunung Bromo ini, memberi mereka gambaran akan gunung.

Semoga suatu hari nanti kami berempat bisa mendaki gunung-gunung di Indonesia, amin.

0

Perayaan HUT RI ke-72

Kami sudah mulai woro-woro ke anak-anak mengenai hari peringatan kemerdekan sejak awal agustus. Diawali dari Pak Candra yang membuat sendiri bendera merah putih. Kami beli bahannya Februari kemarin pas ke jogja, di toko Liman. Anak-anak juga ikut pas nyari bambu buat tiang dan memasangnya di depan rumah.

Ketika tahu kalau ada lomba 17an di taman, mereka mau ikutan. Lintang milih ikut lomba makan kerupuk dan Cakrawala mau lomba memindahkan bendera. Ditanyain mau lomba yang lain, mereka berdua kompak jawab “aku ikut satu aja. Ok nak!.

Kamis pagi, begitu warga sudah berkumpul, diadakan upacara bendera. Sudah lama tidak ikut upacara. Ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya bawaannya pengen mewek. Gimana rasanya jadi atlet yang menang olimpiade ya, mungkin dada berasa gempa :).

Selama acara makanan tersedia melimpah, baik yang disediakan oleh panitia maupun yang dibawa olh masing-masing warga. Sate, rujak, nasi liwet, es kelapa masuk smua *wareg.

Berkumpul

Anak – anak pada semangat ikut lomba. Lintang bahkan nambah ikutan lomba masukin paku ke botol. Mereka juga betah di taman sampai acara selesai. Ini adalah kali pertama Cakrawala ikutan lomba dan kali kedua buat lintang. Walau tidak menang mereka tetap dapat hadiah karena bantuin bersihin sampah di taman :). Makasih ya kakak-kakak panitia.

Kalau bunda, selain makan banyak 🙂 ikutan lomba juga dong. Lomba balap kelereng dan lomba estafet memindahkan karet pakai sedotan. Walau cuma ikut 2 lomba, tetep bikin pinggang mo copot #jompo. Untung menang, horeee!! Juara 3 lomba kelereng.

Seru banget rasanya perayaan 17 agustus kali ini. Mungkin karena anak-anak udah pada gede dan bisa menikmati acara. Apalagi dapat banyak hadiah #tetep dan kenyang.

Dirgahayu ke-72 negeriku. Semoga tercipta keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Amin.

0

Camping di Cikole Jayagiri Resort

Jadi….selepas acara field trip komunitas hebat di Bosscha, kami lanjut ke Cikole Jayagiri Resort (CJR) untuk camping. Sudah lama rasanya kami tidak camping, terakhir bulan april di Cibodas. Sampai kangen tahu.

Camping ini juga terancam gagal sebenarnya karna waktu telepon ke CJR dibilangnya sudah tidak menerima camping pribadi, kalo mau camping sewa tenda sana #patahhati. Cari alternatif tempat lain, terlalu jauh dari Bosscha. Beberapa hari kemudian aku telepon lagi dan diterima oleh petugas yang berbeda, ternyata boleh camping pribadi *piye toh yo. Biaya camping pribadi juga terjangkau yaitu 20rb/orang/malam. Sedangkan kalau sewa tenda disana (termasuk matras dan sleeping bag) biayanya 400rb. Jauh kan ya…

Dari Bosscha ke CJR sekitar 30 menitan, kami sampai jam 9an malam. Jadilah Pak Candra mendirikan tenda dengan bantuan cahaya lampu senter #semangat. Duo bocah berhasil menahan kantuk sampai tenda berhasil didirikan dan kemudian mereka tidur pulas zzzzz….

Bangun tidur kami disapa suhu yang dingin. Kami membuat sarapan roti bakar, sari roti + mentega + ceres. Nyummm..pada doyan. Camping kali ini kami membawa bekal minimalis, karena kalau gak pengen masak ada pilihan buat nyari makan keluar. Tempat camping dekat parkiran dan dekat jalan raya yang sepanjang jalannya banyak warung (jalan ke arah tangkuban perahu). Di CJR juga ada yang jualan gorengan di pagi hari (dekat mushola) dan ada penjual bakso dan kopi juga di dekat area parkir.

Selesai sarapan,udara mulai menghangat. Kami memutuskan untuk jalan-jalan ke area camping belakang. CRJ ini sepertinya dulu disebut Bumi Perkemahan Cikole, kemudian dikembangkan menjadi resort dengan disediakannya tempat-tempat menginap, area gathering dan area outbound. Waktu kami camping saja, kami memilih camping di area baru yang belum selesai digarap karena area camping depan mau dibuat acara outbound pagi harinya. Kata pak satpam, area camping depan juga bakal dibikin spot foto-foto, oh….. Semoga masih menyisakan tempat buat camping. Karena kalau camping di area belakang, bisa bikin yang ngangkat barang encok karena jauh dari pakiran :).

Dengan berjalan kaki, kami menjelajah ke area camping belakang. Area camping belakang memang luas. Teduh dengan banyak pohon. Kami hitung ada lima blok area camping. Waktu kami kesana, semua area sedang dipakai oleh camping mahasiswa. Tersedia warung dan deretan toilet juga disana.

Berjalan keliling blok menguras energi kami, begitu balik ke depan jadi lapar *perut nasi minta jatah. Kami melaju ke arah turun lembang. Mampir beli susu KPSBU dan kebab di foodcourt yang ada di KPSBU. Kebabnya enak walau banyakan sayur dari dagingnya #15rb.

Setelah minum susu, Duo bocah mampir main di wisata petik srowberry Natural. Di Natural stowberry nya sedang banyak buahnya. Bunda hemat nanya dulu ke petugas berapa harga strowberry per kilo. Katanya 185rb. Wow kan ya…Si duo dibreafing buat petik @5 buah. Melenceng dikit sih jumlahnya tapi setidaknya cuma bayar 20rb untuk hasil petikan mereka. Pernah lintang dulu saking keasikan petik sampai harus bayar 60rb :). Oh ya, harga tiket masuknya sekarang udah 20rb/orang dan dapat jus strowberry.

Di natural juga ada penjual makanan, si Bapak dan si Anak pada doyan makan cireng. Bunda mah cukup membeli tanaman lidah mertua mungil seharga 20rb, harga tanaman disana termasuk murah menurutku. Ada kaktus juga, tapi aku lagi puasa kaktus *efek habis banyak ditinggal mati kaktus. Karena kebanyakan nyemil (nyemil?? Iyain aja ya 🙂 ), akhirnya kami bungkus sop iga di warung pinggir jalan buat makan malam.

Begitu sampai CJR kami langsung bablas ke area belakang yaitu Bandung Treetop. Pak Candra mau uji nyali dengan mencoba berbagai jenis permainan outbound. Harga tiket orang dewasa pada weekend 200rb dengan batasan waktu main 2 jam.

Di Bandung Treetop ada beberapa sirkuit yang bisa dilalui, dari yang mudah sampai amat menantang. Pak candra berhasil melewati semuanya, keren ah si Bapak. Paling deg-degan lihat dia loncat dari pohon tinggi dan bergelantungan seperti tarsan. Kalau Lintang selalu setia membuntuti bapaknya, sepertinya dia khawatir, oh anakku sungguh mellow dirimu. Oh ya, kalo mau main ini makan dulu ya biar KUAT.

Pak candra yang betisnya berkonde setelah selesai main lansung ngajak balik ke tenda, capek ya pak? Tak lupa selfi dulu dong dan ngabisin sisa jagung bakar (ini cuma ngemil kok).

Sisa sore kami lewati dengan selonjoran di tenda, anak-anak main tanah (gak ada capeknya nih bocah), makan sop iga dan mandi sore pake air es. Iya air di kamar mandi dingin banget kayak es.

Btw, teman-teman aku sering nanya “ada toiletnya gak sih tempat campingnya? Kalau memang campingnya di Bumi Perkemahan atau camping ground biasanya disediakan toilet umum. Kalau kami biasanya bawa selang pendek, gayung dan ember sendiri buat mandi. Biar merasa siap apapun keadaaa toiletnya :).

Malam kedua aku kedinginan dan malas keluar tenda.Tapi api unggun memanggil-manggil. Kami membuat api unggun dengan kayu yang dibeli disana seharga 25rb/ikat. Dengan api unggun di hadapan, hangaaat. Setelah api unggun mengecil, kami bersiap tidur. Tak lupa gosok gigi dung!!

Capek habis menaklukkan Bandung Treetop membuat juru masak kami mangkir bikin sarapan. Beli gorengan aja ah, hihihi. Harga gorengan 2rb/pcs dengan berbagai macam pilihan gorengan. Kelar sarapan sehat, bunda beberes tenda dan anak-anak main tanah dan abu sisa api unggun. Bunda berusaha tabah dan langsung kepikiran gimana nanti nyucinya, hikssss.

Badan penuh debu membuat kami harus memandikan Cakrawala & Lintang. Padahal niatnya kan langsung pulang gak pake mandi, hihihi. Itulah salah satu kenikmatan camping, anti keringat walau gak mandi :).

Sementara anak-anak mandi, Pak Candra membongkar tenda. Semangat Pak!!

Kelar mandi, duo bocah ngajak main bola. Di area camping depan aja ya yang luas dan berumput. Ternyata spot foto-fotonya mulai nampak disana.

Pulangnya kami lewat jalur ke arah subang. Jalannya bagus dan lancaaaar. Ada perkebunan teh dan deretan penjual nanas subang. Kami juga disuguhi hiasan 17 agustusan, orang-orangan dengan kostum dan bentuk lucu. Sukses bikin kami senyum-senyum.

Kami makan siang ayam penyet surabaya di kota subang. Per porsi 15rb an. Enak dan murah :). Perut kenyang, lanjut melaju masuk tol cipali. Alhamdulillah perjalanan lancar.

Senang sekali akhirnya bisa camping lagi. Insya Allah bulan oktober nanti kami camping di yogya. Semoga sehat semua. Amin.