0

Perayaan HUT RI ke-72

Kami sudah mulai woro-woro ke anak-anak mengenai hari peringatan kemerdekan sejak awal agustus. Diawali dari Pak Candra yang membuat sendiri bendera merah putih. Kami beli bahannya Februari kemarin pas ke jogja, di toko Liman. Anak-anak juga ikut pas nyari bambu buat tiang dan memasangnya di depan rumah.

Ketika tahu kalau ada lomba 17an di taman, mereka mau ikutan. Lintang milih ikut lomba makan kerupuk dan Cakrawala mau lomba memindahkan bendera. Ditanyain mau lomba yang lain, mereka berdua kompak jawab “aku ikut satu aja. Ok nak!.

Kamis pagi, begitu warga sudah berkumpul, diadakan upacara bendera. Sudah lama tidak ikut upacara. Ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya bawaannya pengen mewek. Gimana rasanya jadi atlet yang menang olimpiade ya, mungkin dada berasa gempa :).

Selama acara makanan tersedia melimpah, baik yang disediakan oleh panitia maupun yang dibawa olh masing-masing warga. Sate, rujak, nasi liwet, es kelapa masuk smua *wareg.

Berkumpul

Anak – anak pada semangat ikut lomba. Lintang bahkan nambah ikutan lomba masukin paku ke botol. Mereka juga betah di taman sampai acara selesai. Ini adalah kali pertama Cakrawala ikutan lomba dan kali kedua buat lintang. Walau tidak menang mereka tetap dapat hadiah karena bantuin bersihin sampah di taman :). Makasih ya kakak-kakak panitia.

Kalau bunda, selain makan banyak 🙂 ikutan lomba juga dong. Lomba balap kelereng dan lomba estafet memindahkan karet pakai sedotan. Walau cuma ikut 2 lomba, tetep bikin pinggang mo copot #jompo. Untung menang, horeee!! Juara 3 lomba kelereng.

Seru banget rasanya perayaan 17 agustus kali ini. Mungkin karena anak-anak udah pada gede dan bisa menikmati acara. Apalagi dapat banyak hadiah #tetep dan kenyang.

Dirgahayu ke-72 negeriku. Semoga tercipta keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Amin.

0

Camping di Cikole Jayagiri Resort

Jadi….selepas acara field trip komunitas hebat di Bosscha, kami lanjut ke Cikole Jayagiri Resort (CJR) untuk camping. Sudah lama rasanya kami tidak camping, terakhir bulan april di Cibodas. Sampai kangen tahu.

Camping ini juga terancam gagal sebenarnya karna waktu telepon ke CJR dibilangnya sudah tidak menerima camping pribadi, kalo mau camping sewa tenda sana #patahhati. Cari alternatif tempat lain, terlalu jauh dari Bosscha. Beberapa hari kemudian aku telepon lagi dan diterima oleh petugas yang berbeda, ternyata boleh camping pribadi *piye toh yo. Biaya camping pribadi juga terjangkau yaitu 20rb/orang/malam. Sedangkan kalau sewa tenda disana (termasuk matras dan sleeping bag) biayanya 400rb. Jauh kan ya…

Dari Bosscha ke CJR sekitar 30 menitan, kami sampai jam 9an malam. Jadilah Pak Candra mendirikan tenda dengan bantuan cahaya lampu senter #semangat. Duo bocah berhasil menahan kantuk sampai tenda berhasil didirikan dan kemudian mereka tidur pulas zzzzz….

Bangun tidur kami disapa suhu yang dingin. Kami membuat sarapan roti bakar, sari roti + mentega + ceres. Nyummm..pada doyan. Camping kali ini kami membawa bekal minimalis, karena kalau gak pengen masak ada pilihan buat nyari makan keluar. Tempat camping dekat parkiran dan dekat jalan raya yang sepanjang jalannya banyak warung (jalan ke arah tangkuban perahu). Di CJR juga ada yang jualan gorengan di pagi hari (dekat mushola) dan ada penjual bakso dan kopi juga di dekat area parkir.

Selesai sarapan,udara mulai menghangat. Kami memutuskan untuk jalan-jalan ke area camping belakang. CRJ ini sepertinya dulu disebut Bumi Perkemahan Cikole, kemudian dikembangkan menjadi resort dengan disediakannya tempat-tempat menginap, area gathering dan area outbound. Waktu kami camping saja, kami memilih camping di area baru yang belum selesai digarap karena area camping depan mau dibuat acara outbound pagi harinya. Kata pak satpam, area camping depan juga bakal dibikin spot foto-foto, oh….. Semoga masih menyisakan tempat buat camping. Karena kalau camping di area belakang, bisa bikin yang ngangkat barang encok karena jauh dari pakiran :).

Dengan berjalan kaki, kami menjelajah ke area camping belakang. Area camping belakang memang luas. Teduh dengan banyak pohon. Kami hitung ada lima blok area camping. Waktu kami kesana, semua area sedang dipakai oleh camping mahasiswa. Tersedia warung dan deretan toilet juga disana.

Berjalan keliling blok menguras energi kami, begitu balik ke depan jadi lapar *perut nasi minta jatah. Kami melaju ke arah turun lembang. Mampir beli susu KPSBU dan kebab di foodcourt yang ada di KPSBU. Kebabnya enak walau banyakan sayur dari dagingnya #15rb.

Setelah minum susu, Duo bocah mampir main di wisata petik srowberry Natural. Di Natural stowberry nya sedang banyak buahnya. Bunda hemat nanya dulu ke petugas berapa harga strowberry per kilo. Katanya 185rb. Wow kan ya…Si duo dibreafing buat petik @5 buah. Melenceng dikit sih jumlahnya tapi setidaknya cuma bayar 20rb untuk hasil petikan mereka. Pernah lintang dulu saking keasikan petik sampai harus bayar 60rb :). Oh ya, harga tiket masuknya sekarang udah 20rb/orang dan dapat jus strowberry.

Di natural juga ada penjual makanan, si Bapak dan si Anak pada doyan makan cireng. Bunda mah cukup membeli tanaman lidah mertua mungil seharga 20rb, harga tanaman disana termasuk murah menurutku. Ada kaktus juga, tapi aku lagi puasa kaktus *efek habis banyak ditinggal mati kaktus. Karena kebanyakan nyemil (nyemil?? Iyain aja ya 🙂 ), akhirnya kami bungkus sop iga di warung pinggir jalan buat makan malam.

Begitu sampai CJR kami langsung bablas ke area belakang yaitu Bandung Treetop. Pak Candra mau uji nyali dengan mencoba berbagai jenis permainan outbound. Harga tiket orang dewasa pada weekend 200rb dengan batasan waktu main 2 jam.

Di Bandung Treetop ada beberapa sirkuit yang bisa dilalui, dari yang mudah sampai amat menantang. Pak candra berhasil melewati semuanya, keren ah si Bapak. Paling deg-degan lihat dia loncat dari pohon tinggi dan bergelantungan seperti tarsan. Kalau Lintang selalu setia membuntuti bapaknya, sepertinya dia khawatir, oh anakku sungguh mellow dirimu. Oh ya, kalo mau main ini makan dulu ya biar KUAT.

Pak candra yang betisnya berkonde setelah selesai main lansung ngajak balik ke tenda, capek ya pak? Tak lupa selfi dulu dong dan ngabisin sisa jagung bakar (ini cuma ngemil kok).

Sisa sore kami lewati dengan selonjoran di tenda, anak-anak main tanah (gak ada capeknya nih bocah), makan sop iga dan mandi sore pake air es. Iya air di kamar mandi dingin banget kayak es.

Btw, teman-teman aku sering nanya “ada toiletnya gak sih tempat campingnya? Kalau memang campingnya di Bumi Perkemahan atau camping ground biasanya disediakan toilet umum. Kalau kami biasanya bawa selang pendek, gayung dan ember sendiri buat mandi. Biar merasa siap apapun keadaaa toiletnya :).

Malam kedua aku kedinginan dan malas keluar tenda.Tapi api unggun memanggil-manggil. Kami membuat api unggun dengan kayu yang dibeli disana seharga 25rb/ikat. Dengan api unggun di hadapan, hangaaat. Setelah api unggun mengecil, kami bersiap tidur. Tak lupa gosok gigi dung!!

Capek habis menaklukkan Bandung Treetop membuat juru masak kami mangkir bikin sarapan. Beli gorengan aja ah, hihihi. Harga gorengan 2rb/pcs dengan berbagai macam pilihan gorengan. Kelar sarapan sehat, bunda beberes tenda dan anak-anak main tanah dan abu sisa api unggun. Bunda berusaha tabah dan langsung kepikiran gimana nanti nyucinya, hikssss.

Badan penuh debu membuat kami harus memandikan Cakrawala & Lintang. Padahal niatnya kan langsung pulang gak pake mandi, hihihi. Itulah salah satu kenikmatan camping, anti keringat walau gak mandi :).

Sementara anak-anak mandi, Pak Candra membongkar tenda. Semangat Pak!!

Kelar mandi, duo bocah ngajak main bola. Di area camping depan aja ya yang luas dan berumput. Ternyata spot foto-fotonya mulai nampak disana.

Pulangnya kami lewat jalur ke arah subang. Jalannya bagus dan lancaaaar. Ada perkebunan teh dan deretan penjual nanas subang. Kami juga disuguhi hiasan 17 agustusan, orang-orangan dengan kostum dan bentuk lucu. Sukses bikin kami senyum-senyum.

Kami makan siang ayam penyet surabaya di kota subang. Per porsi 15rb an. Enak dan murah :). Perut kenyang, lanjut melaju masuk tol cipali. Alhamdulillah perjalanan lancar.

Senang sekali akhirnya bisa camping lagi. Insya Allah bulan oktober nanti kami camping di yogya. Semoga sehat semua. Amin.

0

Field Trip Komunitas Hebat : Observatorium Bosscha

Setelah dari Saung Angklung Udjo, kami lanjut ke bosscha (baca : boska). Aku sangat semangat menuju Bosscha. Cita-cita sedari dulu yang akhirnya kesampaian 🙂 *salah satu manusia yang terimbas film Petualangan Sherina. Bisa sih kesini gak bareng rombongan tapi dulu tahunya kalo sendirian gak bisa ikutan kunjungan malam yang artinya gak bisa neropong.

Kami sampai Bosscha sebelum jam 5 sore, jadinya nunggu bentar sebelum kunjungan dimulai. Udara disini dingin, silakan bawa jaket bagi yang gak tahan dingin.

Komplek bosccha sendiri sudah tua, namun masih terawat. Secara dibangunnya sebelum indonesia merdeka atas inisiatif para pecinta ilmu astronomi hindia belanda, salah satunya si Bapak Bosscha yang merupakan penyumbang dana terbesar. Beliau bukan seorang ilmuwan namun seorang pengusaha teh. Keren ya sumbangsih si Bapak. Hartelijk dank Pak.

Memasuki area bosscha

Kami memasuki area Bosscha menuju si kubah fenomenal. Di dalam ruangan kubah, kami bediri mengitari teleskop Zeiss. Teleskop Zeiss merupakan teleskop tertua dan terbesar di Bosscha. Kami mendengarkan presentasi singkat mengenai ilmu astromi, sejarah teleskop zeiss dan dilanjutkan penjelasan beserta demontrasi penggunaan teleskop Zeiss.

Yeaaay!!

Cakrawala si calon astronot

Besar kan??

Keluar dari kubah, kami lanjut ke ruang audio. Disana kami mendapat penjelasan lebih lanjut mengenai sejarah Bosscha dan ilmu astronomi. Prensentasinya bagus. Bikin orang awam astronomi jadi ngeh. Keren!! Lintang suka bagian video kenapa pluto bukan lagi planet dalam tata surya. Hayooo ada yang tahu kenapa?. Dia paling suka pas tahu ada bintang yang lebih besar dari matahari, yang kalo dibandingin ma bumi jauuuuh besar. Bagai titik si bumi. Apalagi manusia ya. Subahanallah.

Waktu presentasi juga diinfokan kalo sekitar bosscha sudah terlalu banyak polusi cahaya. Oleh karena itu dibangun laboratorium baru di Nusa Tenggara Timur. Horeee!! Namun disana tidak ada astronom karena semua dikendalikan dari bosscha. Keren ya!!

Menyimak!!

Keluar dari ruang audio ternyata langit udah gelap. Kami mampir ke toko souvenir sebelum ke area peneropongan. Lintang dan cakrawala membeli pin dan minuman dingin. Bunda beli stiker saja :). Ada souvenir lain juga seperti mug, kaos, miniantur kubah, topi dan gantungan kunci.

Semangat ke puncak acara yang ditunggu, ternyata ada ujian. Peneropongan agak terhambat karena gerimis dan langit mendung. Untunglah akhirnya langit sedikit cerah. Teleskop yang dipakai untuk pengamatan yaitu teleskop Bamberg (dalam ruangan) yang ukurannya besar dan dua teleskop portable yang ukurannya lebih kecil (di luar ruangan).

Seruu banget peneropongannya. Berasa jadi astronom :). Kami bisa melihat dengan jelas planet Saturnus dengan cincinnya, Jupiter si planet terbesar beserta satelitnya dan juga rasi bintang berbentuk kupu-kupu. Oh ya, bintang walaupun diteropong tetap seperti titik namun terlihat lebih jelas. Kalau planet ketika diteropong terlihat bulat sebesar koin.

Bamberg

Selesai acara hampir jam 8 malam. Suka sekali. Rasanya pengen balik lagi. Mana murah lagi tiket masuknya #tetep. Iya, tiket berlaku mulai usia 3 tahun senilai 20rb.

Apalagi ada info dari teman kalo ternyata ada kunjungan malam untuk perorangan sesuai jadwal yang ditentukan. Kalo baca di webnya, bisa mendaftar sebelum hari kedatangan via telepon.

Mau lagiiikk. Tuh ada kan ada jadwal di bulan September dan oktober. Iyes kan pak suami 🙂 .

Jadwal

0

Field Trip Komunitas Hebat : Saung Angklung Udjo

Ikut komunitas ini sebenarnya belum seminggu, tapi begitu ada acara field trip jumat kemarin kami langsung ikutan. Tujuannya menarik sih, Saung Angklung Udjo (SAU) dan Bosscha. Dua destinasi di Bandung yang belum pernah kami datangi #semangat.

Dari rumah jam 10 sampai SAU jam 12 kurang. Suami langsung siap-siap jumatan di dalam SAU dan kami menuju ke tempat makan siang. Oh ya kami yang ikut rombongan kena tiket 60/orang untuk dewasa dan 40/orang untuk anak diatas 4 tahun. Tiketnya berbentuk kalung dengan liontin angklung.

Di pintu masuk langsung disuguhi souvenir

Makan siang

Kelar makan siang, nunggu bentar sebelum pertunjukannya mulai jam 13.00. Pertunjukan yang khusus buat rombongan. Kalau di senin-jumat pertunjukan reguler nya jam 15.30. Saran, kalau kesini mepet ma jam pertunjukan ya biar gak lama nungguinnya 🙂 .

Tempat nontonnya berupa undakan melingkar. Kami swafoto dulu buat mengisi waktu menunggu #selalu.

Swafoto sebelum mulai pertunjukan

Pertunjukan pertama dimulai dengan wayang golek dalam bahasa sunda. Aku tidak mengerti sama sekali. Untung ada sedikit joke dalam bahasa inggris dan bahasa indonesia, jadi bisa ikutan ketawa.

Performance selanjutnya arakan pengantin sunat disertai tarian dan permainan angklung. Meriah.

Melihat pertujukan ini emang khas anak-anak ya. Ada yang ngobrol ma temennya, ada yang tatapannya kosong dan ada yang bersemangat banget tampil 🙂 .

Pertunjukan ketiga yaitu tari topeng. Entah knapa dari dulu saya cenderung bosan nonton tarian. Perlu banget diasah nih jiwa seninya.

Paling suka waktu semua penonton dipinjami angklung. Kami diajari cara pegang, mainin angklungnya sampai bikin lagu sama-sama. Seru!!

Jadi pengen belajar main angklung. Ada dijual disana 1 set angklung tapi kita gak beli 🙂 . 1 set ukuran sedang dengan 8 nada harganya sekitar 200rb an. Pengennya nyari di tempat lain yang lebih murah. Eh bener aja, ternyata teman ada yang dekat rumahnya ma pengrajin angklung #luckyMe #emakhemat.

Terima kasih ya teman-teman Komunitas Hebat Priangan.

Note : kalo kesana, cobain ya es lilin yang dijual di kantin seharga Rp. 3.500. Enak #tetep.

2

Cerita Mudik Lebaran 2017 : Transit Semarang

Entah kenapa aku jarang bisa menuliskan cerita mudik di blog ini. Apa karena kebanyakan makan gulai kambing pas di kampung ya? Untuk kali ini, akan kucoba mengerahkan segenap jari untuk menulis cerita selama mudik kemarin. Ayo kita mulai dengan Semarang  #bismillah. 

Kami itu selalu menjadikan Semarang sebagai kota transit setiap perjalanan kami ke arah timur karena letaknya di tengah antara Bekasi – Probolinggo (entah setengah lebih atau setengah kurang -pastinya).

Walaupun sering dimampiri, kami tidak pernah merasa total menjelajah semarang baik tempat wisata, belanja ataupun kulinernya. Penyebab pertama, kami sering sampai di Semarang ketika sudah larut malam, capek dan kasur hotel lebih menarik. Kedua, ketika paginya kami udah kenyang sarapan dengan menu hotel dan melanjutkan leyeh-leyeh di kasur. Ketiga, mungkin karena merasa nanti juga bakal lewat lagi, hohoho.

Lah kemarin itu, dengan adanya tol fungsional Brebes – Gringsing kami bisa lebih cepat sampai Semarang.  Sedangkan pada perjalanan balik ke bekasi, kami brangkat dari Probolinggo malam hari (biasanya pagi) sehingga bisa sampai Semarang keesokan siangnya. 

Ada beberapa kuliner yang kami cicipi selama di Semarang *mendadak lapar. Urutan pertama adalah Nasi Goreng Babat. Nasi goreng babat yang kami kunjungi yaitu Nasi goreng Babat Sumarsono dan Nasi Goreng Babat Pak Karmin. Yang lebih masuk di lidah jawa timur kami nasi goreng babat Pak Sumarsono, nasi goreng babat Pak Karmin terlalu manis buat kami. Selain itu nasi goreng babat Pak Sumarsono juga lebih banyak babat dan rekan-rekan sesama jeroan-nya #nyuuum. 

​
Nasi goreng babat Pak Sumarsono (atas) VS nasi goreng Babat Pak Karmin (bawah).

​

Kuliner kedua yaitu Ayam Goreng Pak Supar. Kesini atas rekomendasi temannya paksu. Aku gak ikutan makan soalnya waktu itu udah malam banget dan aku merasa cukup dengan makan lunpia saja *pencitraan. Kata Pak Candra ayam goreng nya uenak. 

​
Selain makanan berat, kami juga mencoba makan es krim di Toko Oen. Pilihan kami adalah es krim vanila dan coklat yang harganya paling murah #hemat. Masing-masing gelas mendapat 2 scoop. Rasanya enak tapi menurutku tidak istimewa. Harganya juga mahal untuk aku yang biasa beli es krim walls hehehehe. Per gelas harganya 20rb an. 

​

Selama menjadikan Semarang sebagai tempat menginap, kami belum pernah mencicipi cemilan khas semarang macam lunpia, wingko babat, tahu bakso, bandeng presto dan tahu petis dll. Mudik kemarin kami berhasil memakan semuanya kecuali dll. Horeeee!!!

Lunpia kami beli di seberang Toko Oen, namanya lunpia semarang. Harga satu lunpianya 15rb dan ukurannya besar. Cukup buat makan malam *pencitraan lagi. Rasa? Aku kurang menikmati. Lagi-lagi kemanisan buat aku. 

​

Merasa kurang puas dengan lunpia kami beralih ke tahu petis. Pilihan kami jatuh ke tahu petis yudhistira setelah melihat jarak dan review di google map. Tempatnya agak masuk dari jalan raya, di samping rumah gitu. Tapi tempatnya kekinian dan bersih. Kami betah disini. Disini juga jual lunpia dan tahu bakso ikan serta oleh-oleh jajajan semarang. Pengunjung bisa memilih makan ditempat atau take away. Kami bungkus tahu bakso, tahu petis dan satu botol petis.  

​

Bandeng presto pun kami datangi. Terletak di pojokan jalan pandanaran, gedung baru dengan ornamen bandeng besar di tembok depannya menarik perhatian. Tapi, pas masuk kedalam, entah AC nya mati atau memang gak pake AC, gerah banget. Bikin gak betah blanja. Yang paling mengenaskan toiletnya kotor. Heran saya, padahal bangunan baru lho. Untunglah kami menemukan permen asem kesukaan disini dan juga wingko babat yang enak (lupa merknya 😦 ). oh ya, untuk bandengnya rasa biasa menurut aku.  Harganya untuk 1kg sekitar 100rb an. Gak punya foto di tempat ini, gak konsen habis kena bau toilet dan kepanasan pula :). Semoga nanti bisa lebih bersih lagi ya Bandeng Presto….

Selain berkulineran kami juga sempat menikmati malam di Simpang Lima. Rame banget pas malam minggu. Susah pula nyari parkiran. Kami menjajal naik kendaraan kayuh yang penuh lampu itu. Harga sewanya 40rb, dikayuh sendiri untuk 1 putaran keliling simpang lima. Ada juga permainan anak kayak mobil-mobilan di dalam simpang limanya. 

​

​

Kejadian terpenting (versi bunda tentu 🙂 ) adalah ayah nganterin bunda ke showroom sango. Yeaaay!! Padahal letaknya jauh loh dari hotel. Makasih pak suami tercintah. 

​

Showroom sango ini terletak di lantai dasar Plasa Semarang. Ada 3 ruangan. Ruangan pertama menjual sango yang diskon sd 60% karena produknya stok lama atau ada cacat dikit (foto diatas). Pengen banget aku lama disini, tapi lihat duo Lintang Cakrawala lari muter-muter diantara rak, aku ngeri. Jadinya aku keluar ruangan ini dengan tangan hampa, hikss.

Ruangan kedua berisi aneka produk samgo dengan harga normal, motif-motifnya bikin ngiler *ambil lap. Di ruangan ini aku juga keluar dengan tangan hampa. Bukan, bukan karena mahal tapi gak ada yang aku butuhkan di ruangan ini  *mencoba bijak 🙂 .

Sedangkan ruangan ketiga berisi produk sango polos putih dan aneka perlengkapan rumah tangga berbahan plastik, stainless stell dll. Aku beli sesuatu disini. Horee!! Sebuah teapot sango berwarna putih untuk melengkapi koleksi cangkir ku. Pssst, alasan membeli teapot ini yang kupakai ke paksu, hihihi. Padahal beli di toko biasa juga ada ya #rahasia. 

Terus beli apa lagi? Sama sendok sayur. Itu doang? Hihihi….namanya juga melepaskan diri dari kekepoan. 

Semarang ternyata banyak banget tempat makan enak ya. Masih banyak nih list yang belum dicontreng. Sampai jumpa akhir bulan ini ya Semarang…

0

Elex Comic Center (ECC) di Cikarang

Pertama kali mengenal ECC ini waktu masih kerja di sunter. Kadang kalo lagi main di daerah kelapa gading, mampir ke ECC buat pinjam komik. Begitu move ke cikarang pernah pinjam komik di ECC lippo cikarang. Tapi karena kesibukan bekerja dan sebagai ibu baru, ke ECC lippo cuma sekali :).

Hari jumat kemarin,waktu blanja sayur dan ikan di Pasar Roxy Jababeka melihat lagi ECC. Terletak di deretan ruko bersebelahan dengan Ganesha Operation. Melobi ayah buat diijinin mampir :). Ayah ke pasar sedang aku ma anak-anak ke ECC *salim paksu.

Ternyata ECC ini yang dulunya di Lippo Cikarang dan keanggotaan aku masih berlaku. Aku cukup top up saldo dengan kelipatan 10rb saja untuk meminjam buku. Sedangkan untuk anggota baru harus mengisi saldo min 50rb. Apabila ingin membaca ditempat juga bisa  yaitu dengan membayar Rp. 7.500 selama jam buka (10.00 – 20.00).

Pengembalian buku bisa melalui Go-send. Apabila terlambat mengembalikan dikenakan denda atau bisa juga memperpanjang masa sewa via telepon dengan mengurangi saldo yang dipunya. Harga sewa berkisar 3rb – 10rb. Murah kan?
ECC ini di ruko 2 lantai. Lantai pertama menjual buku baru dengan diskon 15%. Ada banyak dijual novel dan buku anak.

Sedang di lantai 2 terdapat sofa dan kursi serta deretan rak berisi buku disewakan. 

​

​
Aku meminjang novel Pak Pram seri ketiga pulau buru “Jejak Langkah” dan Cakrawala meminjam buku anak berjudul “Pepper dan adik baru” #kode. Total harga sewa kedua buku ini Rp. 13.500.
​
Di lantai 2 juga dijual buku murah gamedia. Kami beli atlas indonesia seharga 23rb dan buku “Paper Toys Kreasi 3 Dimensi Binatang Besar”  karya artis pop up Hafez Achda dari Impian Studio. Ternyata sebelum menerbitkan buku-buku impian studio secara mandiri, mas ini pernah bekerjasama dengan penerbit besar. Keren!!. Oh ya buku yang berisi gambar hewan yang bisa digunting dan dibentuk 3D ini dijual seharga 19rb. Murah kan?

​
Oh ya, waktu peminjaman buku 1 minggu tepat bersamaan dengan waktu belanja ke pasar ^_^. Happy Reading!! kalo kamu, lagi baca buku apa minggu ini?

0

Cerita ke Kidzania #1

Kenapa #1? Sebagai doa biar nanti-nanti bakal kesana lagi :).

Kami ke kidzania di sesi ke-2 (jam 15.00 – 20.00) di hari minggu kemarin.  Rame? Banget, gabungan suara anak-anak bercampur emak-emak dan aneka kendaran muterin kota kecil itu. Tapi tenang, tidak mengurangi keseruan kok. Kalau mau puas bermain datang sebelum jam 15.00 ya. Ingat juga, tidak boleh bawa makanan, hanya boleh bawa minuman di botol pribadi seperti tupperware.

Untuk lintang yang berumur 5 tahun lebih (4+) , sudah banyak profesi yang bisa dicoba. Tapi kalau untuk cakrawala yang belum 4 tahun (toddler) cuma ada 5 wahana yaitu masak2, main puzzle, disko, naik taksi dan bus *plis dibanyakin lagi dung buat toddler. Aku kasihan lihat cakrawala nungguin kakaknya main sementara dia udah khatam :). Paling enak kesana kalo anak sudah umur 6+ karena smua bisa dicoba.
Sebagai sebuah kota, kidzania juga mengenal uang dengan mata uang kidzos. Uang ini nanti dipakai untuk membayar jasa dan bisa didapat ketika telah bekerja. Untuk anak berusia 4+ diberikan cek kidzania yang nanti akan ditukar uang kidzos di Bank BRI #emak juga pengen lho.  

​

Kidzania memiliki 2 lantai, lantai pertama buat aneka profesi buat anak 4+ dan 6+ serta jalanan untuk lewat berbagai kendaraan kota sedangkan lantai dua terdapat aneka factory (untuk anak 4+ juga) dan tempat bermain toddler.  Karena cakrawala dan lintang beda area, kami berpisah dimana ayah bersama lintang dan bunda menemani cakrawala. 

Cerita cakrawala dulu ya. Dia pertama kali main disko, ngikutin dari videonya masih kaku tapi alhamdulillah sampai kelar ya nak. Dia dapat gaji pertamanya disini. Horeee. akhirnya punya uang kidzos juga kayak kakak. 

​

​

Setelah itu dia main masak-masak, dari motong sayur dan memasak di atas kompor.  Ruangan ini didesain seperti dapur dengan meja makannya. Orang tua bisa ikutan masuk juga.

​

​
Tepat disebelahnya, ada urbano living room. Cakrawala masuk sendiri kesini. Cuma sebentar doang, main puzzle katanya. Tapi dapat gaji,  horee.

​
Karena tidak ada lagi yang bisa dimasuki di lantai 2, kami turun untuk mencoba bus dan taksi. Untuk toddler, kedua hal ini gratis. Jadinya uang cakrawala utuh.  

Untuk bus city tour, kami menunggu di halte dan cakrawala naik sendiri. Sedang untuk taksi, dilakukan pemesanan taksi melalui telepon umum dan taksi datang kemudian. 

​

​
Setelah khatam kelima hal itu, kami mendatangi Lintang yang sedang antri di depan Bread House Sari Roti.

Berdasarkan wawancara kepada ayah,  sebelum bertemu kami, lintang sudah mencoba naik mobil dan menjadi petugas SPBU. Untuk naik mobil syaratnya punya SIM dulu. Untuk membuat SIM harus medical check up dulu di Rumah Sakit. Bunda pengen #lho.

​

​

​

Kelar berkutat dengan mobil, lintang menjajal peruntungan jadi pembersih kaca. Syukurlah dia gak takut ketinggian :).​

​

Kemudian, si penyuka roti ini ke Bread  House Sari Roti. Di antrian sari roti inilah kami berkumpul kembali. Horee. 

​
Sekitar jam 5 sore, lintang mengantri di Radio Gen FM. Dia sempet bilang, “aku maunya ikut yang gak pake antri”. Hihihi….udah bosan ngantri rupanya.  Di radio station ini semua anak diwawancara. Lintang ditanya sekolah dimana? Dia jawab, sekolah di rumah. Tetap semangat walau berbeda ya nak!

​
Setelah radio, kami istirahat sholat magrib dan makan. Di dekat tempat makan ada Shoe Care. Lintang dan Cakrawala menjajal memoles sepatu secara bergantian.

​

​
Sekitar jam 7 kami selesai ishoma. Sebelum ke lantai 2, kami mampir ke Bank sebentar untuk menyimpan uang Lintang dan Cakrawala. Tapi ternyata hanya Lintang yang bisa memperoleh ATM *pukpuk adik.
Di lantai 2, pertama yang dituju adalah chocolate factory. Lintang si penyuka coklat sangat antusias. Kapasitas pabrik mini ini 10 anak sekali masuk, membuat lintang tak perlu lama mengantri. Begitu masuk anak-anak diberikan kostum pabrik dan diminta cuci tangan juga. Membuat coklatnya manual, menaruh kacang mede di cetakan kemudian dilanjutkan menuang coklat.  Selanjutnya coklat didinginkan di frezeer dan masing-masing diberikan pembungkus coklat. Coklat yang sudah sedikit beku kemudian dibungkus. Lintang  bisa melakukan semuanya sendiri, horee.

​
Melihat si kakak dari luar kaca, Cakrawala jadi pengen. Antrian selanjutnya masih sedikit, maka kami ikutkan cakrawala antrian dan boleh #alhamdulillah. Dia begitu antusias dan bisa duduk dengan tertib. 

​
Sembari menunggu cakrawala membuat coklat, Lintang ke Tea Factory persis di sebelahnya. Pas banget dia di urutan terakhir antrian untuk masuk selanjutnya. â€‹Di tempat ini anak-anak diminta berbaris sambil meneriakkan “pucuk, pucuk, pucuk” menuju ke lokasi kebun teh dan didalam dikasih minum teh pucuk harum.

Waktu menunjukkan jam 19.50 begitu kami menuju lantai 1. Uang kidzos yang ditangan tidak sempat kami tabung lagi. Di dekat toko souvenir, kami berpapasan dengan teman yang sedang menghitung uang kidzos untuk dibelanjakan. Katanya minimum 100 kiszos untuk bisa ditukar sedang uang di tangan kami hanya 70 kidzos *uangnya kami bawa pulang :). Selesai berpamitan kami segera menuju bagian imigrasi untuk keluar. Untung antrian belum panjang. Di pintu keluar ini gelang kami dilepas satu persatu. 

Lintang dan Cakrawala tertidur sebelun masuk tol dalam kota. Kecapekan ya le. Ketika paginya Lintang langsung nanyain uang, SIM dan ATM nya. Sedang cakrawala menanyakan kapan kesana lagi 🙂 #doyan.

​

Oh ya, favorit lintang membuat roti karena katanya habis bikin roti, enak langsung bisa dimakan :). Sedang cakrawala paling suka naik taksi keliling kidzania. 

Yang belum kesampaian jadi pemadam api, antriannya panjaaang. Next kalo kesini lagi, langsung antri di bagian ini. See u soon Kidzania!!